25 Strategi Manajemen Destinasi Wisata Masa Depan Berkelas Dunia

Di tahun 2018 ini, TripAdvisor mengumumkan Traveller Choice Award untuk tempat terpopuler yang menjadi favorit wisatawan dan sebagian besar adalah World Heritage.

Di posisi teratas ada  Angkor Wat di Kamboja, posisi kedua adalah Plaza de Espana di Seville, Spanyo posisi ketiga adalah Syeikh Zayed Mosque di Abu Dhab, posisi keempatnya St. Peter’s Basilica, Vatikan, posisi kelima Mezquita Cathedral de Cordoba, Andalusia, Spanyol, sementara Taj Mahal menempati posisi keenam.

Adapun World Heritage Candi Borobudur yang menjadi warisan dunia kebanggan Indonesia, meskipun belum berkesempatan masuk dalam 25 besar dunia, namun sudah bertengger pada peringkat ke-22  di tingkat Asia. Mari kita dukung kebangkitan daya saing destinasi Indonesia!

Bagaimana strategi pemasaran destinasi sehingga menjadi favorit traveller di dunia? Bagaimana skenario manajemen destinasi yang berdaya saing dan unggul?

Dalam kesempatan artikel kali ini, kita akan bagikan best practices manajemen Destinasi Internasional dalam menetapkan skenario dan strateginya untuk menghadapi Tren yang mempengaruhi industri pariwisata menjadi peluang, untuk mendorong keunggulan yang kompetitif destinasi wisata di masa depan!

Strategi berdasarkan peringkat prioritas dan tingkat kepentingannya bagi perusahaan/organisasi manajemen destinasi, antara lain:

1. Perusahaan/organisasi menginvestasikan lebih banyak program dan sumber dayanya, dengan memperkaya konten video dalam promosi dan pemasaran destinasi wisata. Video yang diproduksi fokus pada keunggulan destinasi dan disampaikan dalam bentuk cerita (story telling) agar lebih bersifat personal, dengan tematik mulai Nature and Ecotourism, Sport and Adventure, History and Culture, Faith and Tradition hingga Corporate Tourism Film/Spot. Sekitar 64 persen konsumen online, memutuskan untuk membeli suatu produk setelah melihat video promosi di media sosial. Dan video dianggap 10 kali lipat lebih efektif diminati pasar daripada konten artikel.

2. Perusahaan/organisasi memusatkan perhatian secara signifikan pada pembuatan konten yang kekinian dan strategi diseminasi yang efektif menggunakan seluruh platform dan channels untuk menjangkau audiens sesuai target spesifik segmen pasar dan kelompok pelanggan yang dituju. Media seperti Twitter, Facebook, dan Instagram tentunya memberikan peran dalam hal promosi melalui konten. Konten dengan gambar yang berkualitas disertai dengan caption yang menarik akan semakin menambah rasa penasaran bagi para wisatawan. Konten promosi dalam bentuk tulisan, berupa review dari para blogger, testimoni, hashtag yang tepat dan dikelola secara terus menerus dapat membangkitkan konten secara viral.

3. Perusahaan/organisasi fokus untuk menyuguhkan pengalaman atraksi budaya yang otentik bagi pelanggan. Di era experience economy seperti saat ini, pelayanan yang otentik semakin memainkan peran penting untuk menciptakan kepuasan dan loyalitas pelanggan. Mulai dari eksterior dan interior bangunan yang khas, cara berpakaian dan atributnya, serta keramahan (hospitalities) alami dari para petugas pelayanan yang bernuansa otentik dan etnik. Perusahaan/organisasi perlu merumuskan faktor apa saja yang dapat dikembangkan untuk memperkuat pengalaman otentik dan etnik di lingkungan destinasi wisatanya.

4. Perusahaan/organisasi mengembangkan cara agar selalu terhubung secara personal dalam setiap siklus pengalaman pelanggannya. Mulai dari menumbuhkan kesadaran (awareness), memperkuat minat dan keinginan, layanan pemesanan dan transaksi, dukungan pelanggan pada saat kedatangan di destinasi, sampai hubungan purna jual yang tetap dijaga untuk menarik kunjungan-kunjungan berikutnya yang akan datang. Perusahaan/organisasi untuk ini perlu mengelola dengan baik data pelanggannya agar tetap terhubung komunikasi dengan mereka.

5. Perusahaan/organisasi memainkan lebih banyak peran sentral dalam mengadvokasi destinasi wisata. Permasalahan yang muncul di sekitar destinasi, seperti penyerobotan lahan wisata, penggunaan kawasan pedestrian untuk perdagangan, pemandu wisata (tour guide) liar dan sebaginnya perlu mendapatkan advokasi dari perusahaan/organisasi. Advokasi juga bisa dilakukan dalam bentuk dukungan pendaftaran ijin destinasi wisata baru, sertifikasi usaha biro perjalanan dan usaha jasa/perdagangan di lingkungan destinasi yang dikelola masyarakat lokal.

6. Perusahaan/organisasi meningkatkan keterlibatan komunitas utama dan masyarakat lokal sekitar destinasi untuk pertimbangan pengelolaan destinasi dan pengembangan potensi wisata di masa mendatang. Pariwisata bertujuan untuk mengembangkan kapasitas masyarakat, menciptakan lapangan kerja, dan usaha di bidang pariwisata. Peran aktif masyarakat diperlukan untuk menciptakan iklim yang kondusif di lingkungan destinasi wisata untuk menciptakan Sources of Synergy berupa: size getting bigger, scope getting broader, dan skill getting better. Komunitas utama dan keunikan masyarakat destinasi wisata juga sangat berperan dalam meningkatkan daya tarik destinasi.

7. Perusahaan/Organisasi mengembangkan strategi tata kelola dan kode etika untuk melindungi aset dan sumberdaya (resources) destinasi pada saat dilaksanakan event, pertunjukan dan kunjungan wisatawan di destinasi wisata. Memastikan prinsip-prinsip pengelolaan pembangunan pariwisata berkelanjutan dengan secara konsisten dan terintegrasi menggunakan pendekatan tiga prinsip utama (triple-bottom-line) melalui keseimbangan di bidang ekonomi, sosial, dan lingkungan.

Gambaran Tingkat Kepentingan dalam Pemilihan Strategi Organisasi Manajemen Destinasi Internasional berdasarkan Regional

 

8. Perusahaan/organisasi mendesain keterikatan (engagement) pelanggan digital terutama pengguna platform seluler. Dari penelitian yang dibuat UNWTO pada 2017 mengenai aktivitas wisatawan yang menggunakan platform digital, 53% wisatawan menggunakan platform digital untuk mencari akomodasi, 47% digunakan untuk mengetahui transportasi di destinasi wisata, 36% wisatawan menggunakan platform digital untuk mengetahui rekomendasi restoran/tempat makan, dan 40% menggunakan untuk mencari aktivitas wisata yang dilakukan di destinasi. Layanan pemasaran digital disesuaikan untuk mengirim lalu lintas bertarget melalui aplikasi web & seluler untuk menghasilkan prospek yang berkualitas dan pengalaman yang  user-friendly.

9. Perusahaan/organisasi menekankan keterlibatan dengan pelanggan dalam percakapan dua arah yang interaktif dan personalisasi. Membangkitkan lalu lintas berulang melalui interaksi, adalah elemen kunci dalam membangun hubungan tepercaya dan pengalaman personal dengan audience agar terus menghadirkan pengunjung dan pelanggan kembali.

10. Perusahaan/organisasi akan lebih terlibat dalam proyek dan inisiatif pengembangan ekonomi yang lebih luas. Pengelolaan program CSR (PKBL) direalisasikan kepada masyarakat dan pembangunan daerah, sesuai proporsi kontribusi pendapatan yang dihasilkan dari destinasi bagi perusahaan. Untuk pembangunan ekonomi yang lebih luas, perusahaan/organisasi harus mengembangkan inisiasi untuk sektor-sektor potensial selain pariwisata, yakni pertanian, perkebunan, dan industri kreatif sebagai sumber pertumbuhan alternatif.

11. Perusahaan/organisasi mengembangkan strategi baru untuk fokus menggarap segmen pasar milenial. Generasi yang paling baru adalah generasi yang lebih kecil dari generasi sebelumnya, dan mereka akan menjadi segmen yang paling besar dari yang paling besar. Dan ini adalah momen langka. Generasi milenial lebih memilih menghabiskan uang mereka untuk mendapatkan pengalaman (experience) dibandingkan barang (material goods). Pengalaman wisata diabadikan dalam jejak digital yang kemudian di upload di media sosial. Destinasi harus menyediakan spot untuk pengambilan foto dan video yang lebih bervariasi dan siklus penggantian spot lebih singkat. Konten pemasaran juga harus yang uniqe viewers menyesuaikan karakteristik segmen millenial yang mudah bosan.

12. Perusahaan/organisasi memberikan pemahaman bagaimana dampak ekonomi pariwisata kepada pelanggan wisatawan, komunitas utama dan masyarakat lokal. Manifestasi kesadaran pariwisata sebagai katalisator pembangunan yang mempercepat proses pembangunan infrastruktur dan akses transportasi, membuka kesempatan kerja, mempercepat pemerataan pendapatan, meningkatkan pajak negara, serta retribusi daerah. Tumbuh dan berkembangnya usaha-usaha kuliner, homestay, cendera mata yang menonjolkan ornamen dan keunikan lokal, pelestarian arsitektur tradisional dan gedung-gedung bersejarah, munculnya grup pemandu wisata dan penerjemah, bertambahnya lembaga pendidikan dan pelatihan pariwisata, pertumbuhan ekonomi digital dari agen-agen perjalanan dan wisata dan sebaginya.

13. Perusahaan/organisasi menghubungkan pengalaman pengunjung dengan kualitas hidup penduduk masyarakat lokal sekitar destinasi. Wisatawan termotivasi untuk melakukan perjalanan dan mengunjungi tempat destinasi tertentu adalah untuk mencari ‘keaslian’ dan mengalami ‘kehidupan nyata’ masyarakat lokal. Pengalaman budaya, sebagai ekspresi suatu wilayah dan warisan uniknya, dapat dianggap sebagai sarana diferensiasi untuk tujuan di pasar pariwisata yang semakin kompetitif. Bagi traveler, merasakan makanan lokal saat liburan adalah jenis pengalaman sensoris dan pengalaman sensual yang meningkatkan kesenangan liburan dan menarik wisatawan. Berbagai karakteristik yang berhubungan dengan makanan seperti persiapan, gaya memasak, presentasi, kebiasaan makan, budaya makanan dan konsumsi makanan dapat dimasukkan dalam membangun pengalaman pengunjung dengan makanan di tempat tujuan wisata yang memberi wisatawan rasa keberbedaan dan rasa eksotis.

14. Perusahaan/organisasi membentuk aliansi yang lebih strategis secara vertikal dan horisontal dengan di luar sektor industri pariwisata. Dibutuhkannya sinergi masif dan terencana antara destinasi wisata dan infrastruktur khususnya telekomunikasi, pertanian, energi, teknologi, budaya, industri informasi, dan investasi.

15. Perusahaan/organisasi mengadopsi standar operasi dan pelayanan serta ukuran kinerja kunci (key performance) dari benchmark dengan perusahaan/organisasi pengelola destinasi lain. Misalnya, Standar Destinasi Pariwisata Berkelanjutan yang sudah direkognisi oleh UNWTO dan diadopsi dari standar GSTC yang terdiri dari empat standar,  yakni pengelolaan destinasi pariwisata berkelanjutan, pemanfaatan ekonomi untuk masyarakat lokal, pelestarian budaya bagi masyarakat dan pengunjung, serta pelestarian lingkungan. Di Indonesia terdapat standar dari Peraturan Menteri Pariwisata Nomor 14 Tahun 2016 tentang Pedoman Destinasi Pariwisata Berkelanjutan untuk Indonesia.

16. Perusahaan/organisasi menyelaraskan penggunaan dan pendekatan metodologi yang seragam dengan DMO lain untuk mengukur dampak ekonomi secara lebih terukur. Pada tahun 2017 Indonesia masuk ke dalam daftar top 20 Fastest Growing Travel Destination menurut United Nations World Tourism Organization (UNWTO). ASEAN sendiri merupakan destinasi dengan tingkat kunjungan tertinggi kedua setelah Eropa dengan jumlah wisman 125 juta orang pada tahun 2017 lalu.

17. Perusahaan/Organisasi akan lebih menekankan strategi pemasaran destinasi berdasarkan segmentasi pasarnya (customer centric strategy). Tren pasar yang semakin terfragmentasi atau tersegmentasi menjadi kelompok yang spesifik, menjadi ceruk pasar atau market niche. Keluaran dari strategi pemasaran adalah menjadi superior di market place, sedangkan keluaran dari strategi destinasi diantaranya adalah menjadi unggul dalam persaingan (competitive advantage). Agar superior di market place dan menjadi pemenang dalam persaingan, maka pemasaran destinasi melalui Proses branding, segmenting, targeting, selling, serta positioning yang dilakukan dengan pendekatan berdasarkan karakteristik segmen pasar dan kelompok pelanggan yang spesifik sesuai target yang ingin di akuisisi dan kuasai.

Gambaran Tingkat Kepentingan dalam Pemilihan Strategi Organisasi Manajemen Destinasi Internasional dengan fokus beberapa segmen pasar

 

18. Perusahaan/Organisasi mengambil peran yang lebih besar sebagai destinasi hub, maksudnya sebagai simpul atau pusat penyebaran wisatawan dan pelestarian budaya di lingkungan destinasi, untuk meningkatkan daya tarik destinasi dan mendorong daya saing pariwisata Indonesia menuju kelas dunia. Hal ini dapat menjadi penguat brand destinasi, yang dikelola organisasi yang berkomitmen menerapkan prinsip-prinsip pariwisata berkelanjutan. Banyak terjadi marginalisasi dan degradasi budaya lokal cukup serius akibat desakan gelombang modernisasi melalui aktivitas wisata di destinasi.

19. Perusahaan/Organisasi menginvestasikan lebih banyak upaya dalam memindai pasar dan intelijen bisnis. Mengelola dan menganalisis data melibatkan pengumpulan dan eksplorasi data yang sistematis menggunakan teknologi proses-driven untuk membantu organisasi manajemen destinasi membuat keputusan strategis, mendapatkan keunggulan kompetitif dan menghasilkan produk dengan diferensiasi unik. Sistem Business Intelligence bisa menjadi jauh lebih efektif jika dipadukan dengan data warehouse yang tepat, sehingga perusahaan/organisasi harus memiliki semua informasi yang relevan.

20. Perusahaan/Organisasi mengambil peran yang lebih aktif dalam isu-isu politik dan legislatif yang mempengaruhi situasi wisata yang kondusif. Pada masa kampanye politik menjelang pemilu, yang cenderung diisi pengumpulan massa, konvoi kendaraan, serta pengerahan massa yang dilakukan partai politik, selain ditakuti wisatawan juga kerap mengganggu lalu lintas. Ini semakin membuat wisatawan enggan menuju destinasi. Peran aktif manajemen destinasi untuk mendorong komitmen dari masing-masing tokoh politik, legislatif, beserta pimpinan dan massa parpol pendukung untuk memberikan jaminan kepada masyarakat mendapatkan hak berwisata.

21. Perusahaan/Organisasi bersinergi dan menyatukan persepsi dengan pemerintah dan stakeholders untuk mendukung promosi destinasi dan industri pariwisata secara masif. Sinergi juga dibutuhkan untuk mengantisipasi krisis pariwisata dan memitigasi dampaknya terhadap kunjungan, oleh para stakeholder pariwisata, antara lain Academician, Business, Community, Government, Media.

22. Perusahaan/Organisasi memperhatikan keselamatan dan keamanan sebagai pertimbangan strategis dalam perencanaan masa depan kita. Ketentuan terkait perlindungan keamanan dan keselamatan pariwisata sebetulnya telah ada dalam Undang-undang Kepariwisataan. Menurut undang-undang tersebut, perlindungan keamanan dan keselamatan wisatawan merupakan kewajiban pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pengusaha pariwisata. Perusahaan/Organisasi perlu menyusun standar keamanan dan keselamatan yang komprehensif dan melakukan internalisasi di destinasi baik kepada karyawan, komunitas utama, masyarakat maupun wisatawan secara efektif dan konsisten.

23. Perusahaan/Organisasi berpartisipasi lebih banyak dalam membangun platform untuk meningkatkan pengalaman pengunjung. Kecerdasan artifisial dan teknologi digital membantu konsumen memiliki intuisi destinasi yang cerdas, membentuk kembali cara kita meneliti, memesan, dan menikmati wisata. Pengelola Destinasi perlu mempertimbangkan membangun platform yang membantu wisatawan mencari promo dan diskon, merencanakan perjalanan yang akan datang berdasarkan data dari riwayat perjalanan sebelumnya, ‘mencoba sebelum membeli’ dengan menggunakan teknologi VR (virtual reality), rekomendasi destinasi dan aktivitas yang harus dilakukan pada saat wisata, termasuk wisata kesehatan, referensi rumah sewa, rekomendasi kuliner lokal yang populer serta souvenir lokal. Platform yang memadukan fitur blockchain, kecerdasan buatan, dan augmented reality dalam pengalaman wisata.

24. Perusahaan/Organisasi memperoleh kompetensi dan keterampilan untuk bersaing secara efektif dalam era disrupsi ekonomi. Era disrupsi, dimana terjadinya perubahan cara dan fundamental bisnis yang disebabkan oleh revolusi teknologi digital. Memunculkan fenomena baru yaitu ada segmen-segmen pasar yang berbeda dengan segmen pasar sebelumnya, untuk melayaninya membutuhkan kemampuan penguasaan teknologi. Perusahaan/Organisasi harus meningkatkan kemampuan dalam penguasaan untuk memberikan solusi dari setiap tahapan dalam proses customer’s journey secara cepat dan efisien melalui teknologi digital. Selain itu, digitalisasi di destinasi harus dapat beroperasi dengan lebih fleksibel, sehingga bisa beradaptasi dengan cepat merespon kebutuhan dan keinginan konsumen. Fenomena yang terjadi, perusahaan/organisasi harus meningkatkan kapabilitas dalam perubahan model bisnis lama kedalam model bisnis baru yang dapat merubah tatanan bisnis mulai dari upstream sampai downstream-nya, mulai dari proses bisnis internal sampai eksternalitasnya secara terus-menerus dilakukan perbaikan.

25. Perusahaan/Organisasi menempatkan penekanan yang lebih besar pada menghubungkan pelanggan wisatawan bisnis dengan kemampuan intelektual dan jaringan pengetahuan di tempat destinasi. Perusahaan/Organisasi lebih aktif mengembangkan sektor MICE (Meeting, Incentive, Conference & Exhibition) melalui event yang bersifat B2B maupun B2C. Pemasaran destinasi tidak lagi dipahami 4P hanya dari sisi pemasar yaitu produk (product), harga (price), tempat (place) dan promosi  (promotion). Di lain pihak pemasaran dari sudut pandang konsumen 4C maka produk harus menjadi solusi masalah atau nilai bagi konsumen (customer value atau solution), biaya (cost), kenyamanan (convenience) dan komunikasi (communication).

Stakeholder dalam industri bisnis destinasi wisata perlu terus bekerja sama untuk menjawab pertanyaan sulit yang mengarah kepada kalibrasi dan menguji efektivitas strategi dan pendekatan skenario manajemen destinasi wiasta yang lebih powerful. Perusahaan & Organisasi Manajemen Destinasi dapat memainkan peran penting dalam mengaktifkan dan mewujudkan visi untuk membangun nilai ekonomi pengunjung (visitor economy) yang menjadi tren pariwisata masa depan.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

66 + = 73