25 Tren Transformasional yang Mempengaruhi Masa Depan Destinasi Wisata

Hari ini, kita menyaksikan perubahan yang sangat cepat terjadi berikut segenap gejolak, ketidakpastian, kompleksitas dan ambiguitasnnya. Dalam perkembangan industri pariwisata baik skala lokal, nasional dan global, juga telah mengalami perubahan yang sangat dinamis. Ditengah peliknya iklim yang hiperkompetitif dan dinamika ekonomi global yang fluktuatif, perusahaan dan organisasi manajemen destinasi dituntut untuk mengambil langkah-langkah inisiatif dalam perspektif global dengan sensitivitas regional, guna menyikapi tantangan dan ancaman baik dari internal maupun eksternal, serta memanfaatkan peluang dan kekuatan yang dimiliki agar berkinerja unggul.

Artikel ini akan menjelaskan tren transformasional yang mempengaruhi manajemen destinasi wisata di masa depan, tren yang  menjadi trigger inisiasi berbagai perusahaan/organisasi manajemen destinasi internasional.

Shifting (Pergeseran)

Kita telah melihat, ancaman jatuhnya bisnis sektor industri ritel secara global, yang berdampak banyak Industri ritel modern harus ditutup karena sepi dan merugi. Penyebabnya karena peralihan konsumsi masyarakat ke sektor pariwisata, daya beli masyarakat tidak terdistribusi secara merata dan shifting (pergeseran) dari perdagangan konvensional ke non konvensional (online).

Ditengah perkembangan ekonomi wisatawan/pelancong internasional dan nasional, memunculkan situasi provokatif berupa infleksi ekspektasi wisatawan. Perubahan dan shifting selera, tingkat kepuasan dan kebutuhan pengalaman pelanggan wisatawan berpengaruh terhadap pengelolaan aksesabilitas, atraksi dan amenitas yang harus memenuhi ekspektasi.

Tidak sedikit wisatawan yang lebih memilih mengunjungi destinasi baru, sebagian kecil saja yang bernostalgia. Menimbulkan tingkat loyalitas dan engagement pelanggan terhadap destinasi wisata menurun. Dampaknya destinasi kemudian sepi karena ditinggalkan pengunjung setianya yang mulai bosan dan bisnis wisata-pun menjadi stagnan.

Bagi pengelola yang kreatif, langkah antisipatif dilakukan dengan membuat destinasi dan wahana baru, bagaimana sekarang semakin maraknya inovasi dan pengembangan produk di destinasi inkumben. Perubahanpun diikuti dengan perbaikan dan terobosan proses bisnis bagaimana destinasi dipasarkan, dijual, ditransaksikan, dikonsumsi, dan diberikan sentuhan nilai tambah.

Jika kita menyimak, bagaimana tantangan market share wisman juga sebarannya masih kurang  merata di seluruh destinasi nusantara. Jumlah kunjungan wisman ke Indonesia selama 2017 totalnya mencapai 14 juta (data BPS). Sebanyak 40%-nya wisman tersebut berkunjung ke Bali. Sedangkan wisman yang ke candi Borobudur share-nya masih sekitar 3-4%.

Meskipun diterbitkan kebijakan bebas visa untuk 169 negara melalui Perpres No. 21 Tahun 2016, namun nampaknya belum berdampak signifikan terhadap efektivitas program promosi 10 destinasi baru dan triple coral diamond, guna mendorong destinasi yang lebih kompetitif dibandingkan Malaysia atau Thailand dan negara ASEAN lainnya.

Peluang lainnya adalah semakin kondusifnya iklim investasi sektor pariwisata di berbagai daerah. Penyerapan PMDN tumbuh pesat sekitar rata-rata 27-31% sejak tahun 2016. Menurut data BKPM, secara nasional realisasi investasi sektor pariwisata ada di nomor 12 (hotel dan restoran) dan di nomor 7 (transportasi).

Penyerapan tenaga kerjapun meningkat. Lihat saja pengangguran di Bali adalah yang terendah di Indonesia yaitu sebesar 1,48 persen di tahun 2017, dan Yogyakarta di posisi kedua dengan tingkat pengangguran terbukanya sebesar 3,02 persen. Pariwisata yang memiliki sifat padat karya (labor intensive).

Di tahun 2019, pariwisata ditargetkan memberikan kontribusi pada PDB nasional sebesar 8%, devisa yang dihasilkan Rp 280 triliun, menciptakan lapangan kerja di bidang pariwisata sebanyak 13 juta orang, jumlah kunjungan wisman 20 juta dan pergerakan wisnus 275 juta, serta indeks daya saing pariwisata Indonesia berada di ranking 30 dunia.

Hal ini menjadi tantangan bagi pengelola destinasi untuk mengambil langkah-langkah inisiatif dalam perspektif global dengan sensitivitas regional. Ditengah peliknya iklim yang hiperkompetitif dan dinamika ekonomi global yang fluktuatif.

3 Peluang transformasional Manajemen Destinasi wisata

Daya tarik destinasi wisata merupakan segala sesuatu yang menarik dan menghasilkan pengalaman wisatawan, baik secara pasif maupun aktif.

Destinasi wisata sebagai Visitor Receiving Area (VRA) merupakan tempat tujuan wisata, dimana pengelolanya memiliki setidaknya tiga peluang strategis untuk transformasi destinasi. Antara lain:

1. Penjualan & Pemasaran: Adanya pergeseran (shifting) dari semula broadcast menjadi engagement dan transaksional ke strategis. Pengguna internet di dunia diprediksi 3,6 milyar pada tahun 2018, atau sekitar 50% dari populasi penduduk di dunia (emarketer), hal ini berdampak terjadi shifting strategi pemasaran untuk lebih fokus pada engagement (keterikatan pengunjung).

Dalam kacamata wisatawan, bauran pemasaran 4 P’s diterjemahkan dalam 4 C’s (Customer Solution, Communication, Convenience dan Customer Cost), hal ini mendorong penjualan yang lebih fokus pada solusi yang strategis.

2. Manajemen Destinasi: Memberikan peran yang lebih besar dalam hal pengembangan produk dan jasa pada destinasi wisata. Perubahan perilaku berwisata dari leisure menjadi pencarian pengalaman (experiences) dan kebutuhan pengakuan (esteem), mendorong inisiatif dalam pengembangan dan inovasi produk destinasi wisata.

Pengembangan produk mengikuti tahapan dalam siklus hidup produk yang semakin pendek, berupa: tahap exploration, involvement, development, consolidation, stagnation, decline dan rejuvenation. Pengelola destinasi yang gesit, akan segera mengantisipasi pada masa stagnasi dengan inovasi produk-proses-pelayanan.

Sehingga pada tahap decline (pengunjung jenuh dan terjadi penurunan kunjungan) segera direposisi dengan tahapan rejuvenation (peningkatan kunjungan karena peningkatan daya tarik) sebagai dampak dari dilakukannya peremajaan produk, penyederhanaan proses dan perbaikan pelayanan yang meningkatkan nilai tambah untuk pelanggan wisatawan.

3. Model Bisnis: Penekanan yang lebih besar pada kemitraan dan kolaborasi. Business model adalah cara perusahaan atau organisasi dalam mencari profit, dalam melakukan pengembangan usaha.

Dalam industri pariwisata, era digital lifestyle yang berdampak pada digital disruption telah mendorong persaingan bukan lagi antar produk dan destinasi, melainkan persaingan keunggulan model bisnisnya. Lihat saja kesuksesan terobosan transportasi online, seperti Grab Taxi, Uber dan Go-Jek, atau business model jasa akomodasi AirBnB, yang fokus pada kemitraan dan kolaborasi.

Menteri Pariwisata Arif Yahya memiliki program 100.000 homestay sebagai wujud terobosan model bisnis dengan memanfaatkan sharing economy. Homestay adalah salah satu strategi untuk mengatasi keterbatasan amenitas destinasi wisata, agar wisatawan lebih lama berkunjung.

Pengelola destinasi PT Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur, Prambanan, Ratu Boko, sudah menginisiasi dengan membangun 20 homestay dalam kurun waktu 4 bulan. Bahkan, diproyeksikan, akan ada 450 homestay yang akan dibangun di seputar candi Borobudur hingga 2019.

25 Top Tren yang berpengaruh terhadap Manajemen Destinasi Wisata

Digital disruption adalah sesuatu yang datang setelah era digital, dan mengganggu kestabilan bisnis yang tidak menggunakan internet dan teknologi digital untuk mengelola pasar sebagai nilai tambahnya.

Pasar destinasi wisata disini bukan hanya pelanggan saja, tetapi didalamnya termasuk arena (market place), pesaing (competitors) dan atau rakanan (partners dan aliansi strategis). Terdapat 25 Top tren yang mempengaruhi kapabilitas pengelolaan destinasi wisata antara lain:

Grafik Tingkat Kepentingan Pengaruh Tren terhadap Organisasi Manajemen Destinasi Internasionl

 

Tren berdasarkan peringkat pengaruhnya terhadap tingkat kepentingan perusahaan/organisasi manajemen destinasi, antara lain:

1. Keunggulan media sosial dalam menjangkau pasar perjalanan wisata (misalnya Facebook, Instagram, Pinterest, Twitter, Weibo, dll), Website dan Internet of Things (IoT), sekarang menjadi sumber utama informasi destinasi wisata dengan tingkat pemanfaatan untuk marketing destinasi wisata sangat strategis dan efisien. Sosial media dapat membantu mengembangkan target pasar yang selangkah lebih maju dari kompetitor, berfungsi untuk Learn and Improve, Explore and Discover serta Question and Answer, dan meningkatkan pengunjung website serta ranking search engine. Selain itu berguna juga untuk meningkatkan brand awareness dan promosi dengan biaya yang lebih terukur cost effectiveness-nya.

2. Pembuatan konten destinasi dan diseminasi ke audiens publik dengan memanfaatkan semua platform, serta menggunakan berbagai saluran (omnichannels), akan berdampak mendorong penguatan brand awareness destinasi dan pembentukan pengalaman wisatawan sedari awal sehingga mempercepat siklus dalam mereka pengambilan keputusan dalam perjalanan wisata. Mengenali karakteristik pelanggan wisatawan dengan baik sebelum membuat konten, memproduksi konten dengan Content Management System yang handal, menjadi sangat penting agar terciptanya citra (image) yang tepat dari sudut pandang target pelanggan. Mengacu pada USPs (Unique Selling Proposition) agar dapat dipersepsikan berbeda dibanding destinasi pesaing dan unik dibenak target audiens pelanggan. Diseminasi dengan memanfaatkan waktu terbaik (prime time) setiap platform yang berbeda-beda juga menjadi kunci efektivitas dan efisiensi dalam pemasaran destinasi.

3. Pelanggan semakin mencari pengalaman perjalanan yang otentik dan personal. Pada saat ini mengelola pengalaman pelanggan adalah cara praktis untuk membangun loyalitas pelanggan terhadap suatu merek destinasi. Loyalitas pelanggan wisatawan menjadi ukuran kemenangan brand destinasi dalam kompetisi pariwisata. Pengalaman wisata yang otentik dan personal dapat menembus jaringan memori semantik sehingga produk dan layanan diasosiasikan didalam benak target pelanggan sebagai suatu nilai yang positif. Terciptanya proposisi nilai (value proposition) yang tepat dan efektif, akan menjadi motif alasan mengapa target pelanggan berkunjung ke suatu destinasi, loyal dan terikat bahkan membagikan pengalaman positifnya ke media sosialnya.

4. Penggunaan Platform dan komunikasi seluler akan menjadi semakin penting bagi wisatawan dari tahap pertimbangan destinasi hingga tahap pengalaman perjalanan. Penggunaan platform dan komunikasi seluler oleh perusahaan/organisasi mulai di integrasikan dalam proses branding, segmenting & targeting, selling, serta positioning dan menjadi program tingkatan strategis yang artinya proses tersebut merupakan keputusan manajemen untuk jangka panjang. Bukan lagi sekedar keputusan taktis mengenai bauran pemasaran (marketing mix). Data The Spectator Index menyebutkan pengguna terbesar komunikasi seluler di dunia antara lain negara: China 1.5 milyar, India 1.1 milyar, Amerika Serikat 327 juta, Brazil 281 juta, Rusia 256 juta, Indonesia 236 juta.

5. Platform dan aplikasi seluler menjadi platform untuk membangun keterikatan (engagement) utama bagi wisatawan. Keterikatan (engagement) pelanggan wisatawan akan menumbuhkan Advocacy yang berarti loyalitas pelanggan tidak hanya sampai agar konsumen membeli atau berkunjung kembali (repeat customers) tetapi lebih jauh lagi yaitu selain berkunjung terus menerus, juga mereka dengan rela menjadi agen untuk mengajak dan menawarkan destinasi kepada calon pelanggan lain sehingga pertumbuhan dari keuntungan perusahaan akan meningkat yang digerakkan oleh pelanggan wisatawannya sendiri.

6. Video menjadi sumber pendapatan dan mata uang baru dalam promosi, Informasi pihak ketiga dan rekomendasi interpersonal sangat diandalkan dalam pemasaran destinasi wisata. Video adalah konten atau media yang menjadi salah satu alat strategi marketing dalam bisnis online paling populer. On-demand video menarik konsumen untuk brand. Dan yang terbaik adalah hal tersebut menarik perhatian audiens dan membuat mereka bisa terhubung dan berinteraksi dengan brand destinasi kita.

7. Pengelolaan big data untuk mengembangkan analisa bisnis dan pendukung pengambilan keputusan menjadi pembeda bagi perusahaan pariwisata dan organisasi pengelola destinasi yang berhasil. Big data memiliki sifat high-volume, high-variety, dan high-velocity. Artinya, data yang ada sangat melimpah, ragamnya sangat banyak, dan bisa didapatkan secara real-time. Dengan big data ini, setiap perusahaan dapat memantau seperti apa profil pengguna produk destinasi, destinasi & wahana apa yang mereka sukai, seperti apa perilaku calon konsumen yang akan dituju, bahkan mengukur efektivitas strategi pemasaran, kualitas operasional pelayanan dan lain sebagainya.

8. Teknologi cerdas (smartphone) menciptakan peluang baru untuk proses layanan baru yang inovatif. Tren pariwisata/destinasi saat ini mengedepankan prinsip digital friendly, yaitu harus dapat memfasilitasi pengunjungnya dalam melakukan look, book, buy dan act dengan smartphone dan media digital lainnya. Pengelola destinasi harus benar-benar memiliki media digital seperti website, aplikasi mobile, sistem transaksi online, dll yang responsif dengan perangkat smartphone wisatawan. Di akhir 2017 lalu menyatakan Indonesia merupakan negara yang memiliki pangsa trafik mobile tertinggi di Asia Tenggara, yakni sebesar 87% dari total trafik.

Kajian Pemeringkatan Pengaruh Tren & Tingkat Kepentingannya bagi Organisasi Manajemen Destinasi Internasional berdasarkan Regional

9. Teknologi memungkinkan pengambilan keputusan dan evaluasi alternatif lebih cepat bagi pelanggan wisatawan. Platform online marketplace pariwisata Indonesia akan berfungsi super efisien sebagai hub yang mempertemukan supply dan demand, sehingga mendukung wisatawan untuk lebih cepat dalam evaluasi alternatif dan pengambilan keputusan untuk perjalanan wisatanya.

10. Penargetan segmen pasar destinasi wisata berdasarkan geografis dan lokalisasi menjadi lebih umum. Tren penargetan segmentasi wisatawan tidak hanya berdasarkan pendekatan psikografis saja, melainkan geografis dan lokalisasi. Pendekatan secara geografis dengan melihat segmentasi pasar menurut wilayah, origin country, pintu kedatangan wisman, ukuran pasar, tingkat kepadatan, intensitas ataupun iklim pasar. Demografis Melakukan segmentasi pasar menurut usia, jenis kelamin, pendapatan, latar belakang etnis, siklus hidup keluarga, pendidikan, pekerjaan, agama, dan kelas sosial sebagai acuan dalam melokalisasi pelaksanaan strategi pemasaran.

11. Organisasi manajemen destinasi (DMO) mengembangkan aliansi strategis untuk memanfaatkan sharing sumber daya. Perusahaan memanfaatkan model bisnis sharing economy untuk mengatasi ketidakefisienan dan keterbatasan sumberdaya. Sebagai contoh Platform-platform seperti Airyroom dan Airbnb menghubungkan pihak yang membutuhkan akomodasi dengan pihak yang berusaha menyewakan tempatnya. Sharing economy atau collaborative consumption lebih berfungsi sebagai sebuah proses mengoptimalisasi sumber daya destinasi dan pariwisata yang bersifat open source, online collaboration, file sharing, hingga peer-to-peer transaction melalui sebuah solusi sistem teknologi.

12. Pemerintah akan menghadapi tekanan untuk mengurangi atau menghilangkan subsidi keuangan langsung atau Dana Alokasi Khusus (DAK) di sektor pariwisata. Tingginya dana alokasi khusus untuk pengembangan pariwisata, di berbagai negara mulai mendapatkan tekanan untuk mengurangi bahkan menghilangkannya. Di Indonesia, pada 2017 dana alokasi khusus tersebut mencapai Rp 504 miliar yang diberikan kepada 261 daerah yang tersebar di 17 provinsi. Kemudian pada 2018, berdasarkan usulan dari 409 daerah di 19 provinsi mendapat anggaran sebesar Rp 631,950 Milyar. Tujuannya untuk meningkatkan daya tarik wisata dalam mencapai target wisatawan mancanegara (wisman) sebanyak 17 juta orang dan wisatawan nusantara 270 juta orang di tahun 2018.

13. Pelanggan semakin mengharapkan konten kurator kegiatan, agenda event atau program-program yang akan dilakukan organisasi manajemen destinasi. Di Indonesia Kementerian Pariwisata menetapkan 100 agenda wisata sepanjang tahun 2018, dan melakukan pendampingan terhadap kurator dan juga penyelenggara event-event pariwisata, untuk memastikan penyelenggaraan event pariwisata bisa tepat sasaran.

14. Brand destinasi menjadi faktor yang sangat penting dalam pertimbangan keputusan perjalanan wisatawan. Tren Jaminan Keselamatan dan keamanan di destinasi akan menjadi diferensiasi penguatan brand destinasi. Menurut undang-undang no 10 th 2009, perlindungan keamanan dan keselamatan wisatawan merupakan kewajiban pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pengusaha pariwisata. Perusahaan dipandang perlu menetapkan standar keamanan dan keselamatan yang komprehensif untuk destinasinya, yang dengan tim satuan reaksi cepat, teknologi dan simulasi rencana kontingensi (Contingency Plan) gawat darurat secara intensif.

15. Pelanggan wisatawan semakin ingin mengalami dan merasakan cara hidup serta berinteraksi secara langsung dengan masyarakat setempat. Sosiokultural menjadi salah satu nilai yang dipertimbangkan oleh para wisatawan. Mereka merasa lebih senang jika bisa memberikan sumbangan yang berguna untuk penduduk lokal baik berupa materi, tenaga, informasi atau gagasan. Interaksi antara wisatawan dengan penduduk desa menjadi poin penting dalam tren pengembangan wisata saat ini.

16. Aksesabilitas transportasi udara ke destinasi adalah tantangan utama dalam menarik wisatawan/pelancong dan wisatawan bisnis/MICE. Tren Akses transportasi udara ke destinasi menjadi tantangan utama dalam menarik wisatawan dan mitra tour & travel.

17. Wisatawan menuntut lebih banyak informasi, kontrol, interaksi, dan personalisasi. Tren Persaingan dalam industri pariwisata telah menciptakan cara-cara (approach) baru untuk melayani kebutuhan wisatawan dan secara signifikan telah mendisrupsi mata rantai nilai (value chain) dalam industri lainnya. Ini berarti perusahaan harus fokus dalam membantu pelanggan dan memberikan solusi terbaik kepada setiap pelanggan agar dalam hal pengambilan keputusan terhadap pembelian produk kita, pelanggan dan perusahaan memperolah kepercayaan dan komitmen yang tinggi.

Kajian Pemeringkatan Pengaruh Tren dan Tingkat Kepentingannya bagi Organisasi Manajemen Destinasi Internasional berdasarkan pendekatan Segmen Pasar

18. Pajak pariwisata semakin rentan dialokasikan untuk proyek-proyek berbasis politik alternatif dan praktik kekuasaan. Di Indonesia, khususnya jelang memasuki tahun politik 2018, Pariwisata sangat rentan disusupi alokasi anggaran dan pungutan pajak untuk agenda politik. Program-program wisata disetir untuk penguatan basis-basis politik alternatif tertentu, sehingga tak lagi murni untuk mencapai target pembangunan pariwisata.

19. Kecenderungan mengemas MICE yang menawarkan pesertanya menikmati pengalaman lokal yang lebih otentik. Tren kegiatan wisata MICE (Meeting, Incentive, Conference, Exhibition) berpeluang menjadi andalan untuk meningkatkan pendapatan devisa sektor pariwisata mengingat pengeluaran pelancong bisnis tersebut rata-rata tiga kali lebih besar dari wisman biasa (leisure) di Asia Tenggara, di Eropa bahkan tujuh kali lipatnya. Event organizer yang mengelola wisata MICE mengkolaborasikan paket wisata MICE dengan pengalaman lokal yang otentik. Hal ini karena wisatawan MICE berpotensi untuk berubah menjadi wisatawan biasa (leisure) sebelum dan sesudah konvensi. Wisatawan MICE pada umumnya peserta dan delegasinya adalah para pembuat keputusan termasuk CEO perusahaan. Dengan begitu kekuatan informasi tentang destinasi yang mereka sampaikan akan berdampak lebih kuat dalam promosi.

20. Industri bergerak dari e-commerce hingga m (mobile) –commerce dan akhirnya ke V (video) –commerce dalam komunikasi dan transaksi dengan pelanggan wisatawan. Tren dalam industri digital yang berkembang dengan berbagai deriva­tifnya,  dari e-commerce menuju kepada mobile apps (m-commerce), sosmed (social commerce), kemudian video (v-commerce). Tren e-commerce di tahun 2018 ini akan mengarah ke User Generated Content (UGC) yang berkaitan dengan kebiasaan  dan perilaku konsumen. Setiap platform media sosial akhir-akhir ini mengembangkan fitur live video dan menambahkan fitur baru setiap bulan ke platform mereka. Video langsung (live) adalah cara yang bagus untuk terhubung dengan khalayak, khususnnya pada saat dilaksanakan event-event khusus di destinasi. Kebanyakan orang lebih senang menonton video daripada membaca artikel karena lebih menarik secara visual. Video juga memiliki tingkat keterlibatan penonton yang lebih tinggi dibanding artikel.

21. Brand identity destinasi menjadi bagian penting bagi pengelola destinasi dan mitra tour & travel untuk membangun persepsi tentang nilai dan pengalaman. Tren usaha pariwisata/destinasi saat ini harus terus kreatif dan inovatif dengan selalu menampilkan augmented product yang baru, yang unik dan otentik, memungkinkan terjadi interkasi dengan budaya lokal dan dapat melihat serta terlibat secara langsung dengan kebiasaan masyarakat setempat, hal ini yang justru menciptakan creativity value dan commercial value. Sebuah brand ingin sukses sekarang dan di masa mendatang, mereka perlu berinvestasi pada semacam “radar budaya”. Dengan terus mengikuti perkembangan teknologi dan platform seiring dengan investasi pada bakat digital, yang dapat memahami perjalanan pelanggan dan menafsirkan data yang relevan untuk membentuk wawasan yang informatif. Brand yang bisa mengadopsi dan beradaptasi akan melesat jauh di depan pesaing mereka.

22. Disrupsi mendorong terjadinya perubahan model bisnis, ancaman terorisme, pandemik, atau bencana alam, akan semakin berdampak pada bagaimana manajemen destinasi mengambil langkah antisipasi dan bertindak. Menurut majalah Forbes, beberapa teknologi yang akan menyebabkan disrupsi digital adalah Intelligent Agents, Augmented and Virtual Reality, Internet of Thing, Cognitive Technology dan Hybrid Wireless Technologies. Perusahaan/organisasi manajemen destinasi terdorong untuk menggarap pangsa pasar yang belum banyak dijamah dan memangkas produk yang dinilai tidak efisien. Selain itu dilakukan shifting, merger, akusisi, konsolidasi dan afiasi dalam manajemen destinasi.

23. Teknologi digital membuat produk dan layanan perjalanan wisata menjadi lebih transparan bagi pelanggan. Sebuah studi oleh Label Insight menyatakan Perusahaan yang transparan dan berkomunikasi secara terbuka dengan pelanggan, dampaknya adalah tumbuhnya loyalitas dengan 94% konsumen yang mengaku bertahan dengan perusahaan yang menawarkan transparansi, dan 73% bersedia membayar lebih untuk produk tersebut.

24. Komunitas lebih terlibat dalam pengembangan dan pengelolaan pengalaman di destinasi wisata. Konsep community based tourism (CBT) atau pariwisata berbasis masyarakat, adalah dengan melibatkan masyarakat lokal dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan program-program pariwisata. Keterlibatan masyarakat dimulai dari mengidentifikasi potensi yang terdapat di wilayahnya, baik potensi alam, budaya, kuliner maupun manusianya. Ini karena setiap daerah memiliki potensi yang berbeda-beda. Keragaman ini menjadi suatu aset dalam menawarkan pengalaman yang bervariasi dan menjadi alternatif daya tarik tersendiri.

25. Daya tarik atraksi menjadi program kolaboratif antara pelaku sektor pariwisata dan sektor ekonomi lainnya di dalam masyarakat. Sebuah atraksi wisata harus memiliki nilai edukasi, sejarah, dan lain sebagainya untuk membuat wisatawan kembali berkunjung. Maraknya destinasi digital untuk wisata selfi adalah satu atraksi yang sifatnya temporer, dan menghasilkan wisatawan sekalu kunjungan saja.

Seorang penjelajah destinasi yang baik tahu bahwa ia seorang penggubah opini. Ia membangun image, struktur cerita, dari jejak perjalanannya. Setiap foto dan video dalam bentuk jejak digital perjalananya yang dibagikan: menjadi ingatan dan pengakuan.

Demikian artikel kali ini, 25 Tren yang mempengaruhi destinasi di atas masih bersifat fundamental.
Masih perlu dikembangkan secara teknikal agar lebih praktis, simak artikel lainnya lebih lanjut:

25 skenario strategi manajemen destinasi masa depan!

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

62 − 54 =