4 Disiplin Manajemen Eksekusi yang Sukses mendorong Strategi Move On!

Salah satu kunci keberhasilan untuk mencapai tujuan dan target yang telah ditetapkan adalah kemampuan untuk mengeksekusi strategi yang ada. Namun dalam banyak kesempatan, justru kita acapkali gagal dalam mengeksekusinya.

Alhasil, program aksi yang menjadi target untuk mencapai sasaran strategis yang telah ditetapkan tidak berjalan sesuai tujuannya. Dalam kesempatan kali ini, kita akan membahas 4 disiplin dalam manajemen eksekusi agar powerful.

Penulis Chris McChesney, Sean Covey, dan Jim Huling telah melakukan survey kepada lebih dari 200.000 pemimpin di seluruh dunia untuk mencari tahu apa yang membuat sulit untuk bisa mengeksekusi strategi-strategi yang ditentukan untuk mencapai tujuan.

Jawabannya bervariasi, namun dari variasi jawaban tersebut terdapat satu kesamaan dasar. Alasan utama kegagalan tersebut adalah karena mereka menghabiskan semua energi mereka berhadapan dengan yang disebut dengan whirlwind (pusaran angin).

Whirlwind

Musuh utama yang nyata dalam eksekusi adalah pusaran angin dari pekerjaan harian kita! rutinitas harian kita! yang dalam jumlah besar menghabiskan banyak energi dan waktu kita. Hal inilah yang membuat kita sulit untuk melakukan hal yang baru seperti terobosan (breaktrought) dan inovasi yang justru bisa berpeluang besar mempercepat tercapainya tujuan.

Whirlwind  ini termasuk semua notifikasi pesan masuk pada gadget kita, semua birokrasi dan ritualitas yang harus dilewati, semua masalah yang kita rasa perlu untuk selesaikan, dan berbagai macam pertemuan yang kita rasa perlu kita hadiri.

Semua hal yang menyebabkan kita terjebak dalam multi tasking dalam kesempatan waktu kerja kita. Prinsip yang mendesak seperti “Everything Seems Urgent”, semua hal seolah sangat penting, urgent dan harus didahulukan.

FranklinCovey, bekerja sama dengan HarrisInteractive, lembaga jajak pendapat di Amerika Serikat, melakukan xQ (Execution Quotient) Survey terhadap 12.000 pekerja AS. Hasil dari survei tersebut, ditemukan ada empat faktor penyebab kegagalan eksekusi, yakni:

  1. Orang tidak tahu apa yang menjadi sasaran (goal);
  2. Orang tidak tahu bagaimana cara mencapai sasaran (goal) tersebut;
  3. Orang tidak mengukur/menjaga skor;
  4. Orang tidak bertanggung jawab terhadap kemajuan dalam pencapaian sasaran (goal).

Penulis Chris McChesney, Sean Covey, dan Jim Huling dalam bukunya yang berjudul The 4 Disipline of Execution, menjelaskan ada 4 disiplin yang terbukti mampu mendorong dilaksanakannya eksekusi yang efektif, antara lain:

  1. Focus on wildly important goals (WIG)

Fokus pada hal yang sangat penting, dengan mempersempit jumlah sasaran strategis diluar tuntutan whirlwind sehari-hari.  Secara teknis berupa membuat prioritas terhadap sasaran dalam jumlah yang lebih sedikit. Karena semakin banyak sasaran dibuat, biasanya akan semakin sedikit sasaran yang dicapai dengan efektif.

Karena Wildly Important Goals itu sangat penting, maka pikirkan dengan seksama lag measure yang menunjukkan keberhasilan. Definisikan lag measure – dalam hal ini lag measure adalah tolak ukur yang akan mengindikasikan pencapaian tujuan.

Pertama-tama adalah dengan menyusun prioritas menjadi dua atau tiga tujuan utama yang paling penting untuk dicapai. Seperti halnya Stave Jobs dari Apple, meskipun memungkinkan menghasilkan banyak produk, tetapi fokus Jobs hanya pada sejumlah produk yang “wildly important”, dan hasilnya luar biasa. Contohnya pilihan untuk fokus pada produk iPhone, berhasil secara konsisten menyumbang hampir dua pertiga pendapatan perusahaan Apple Saat ini nilai kekayaan simpanan kas perusahaan Apple sebesar 250 miliar dollar AS atau lebih dari Rp 3.331 triliun.

  1. Act on the lead measure

Fokus bekerja pada hal-hal yang menggerakkan tujuan. Prinsip Pareto mengatakan 80% hasil yang kita dapatkan berasal dari 20% aktivitas yang kita lakukan. Dalam upaya mencapai sasaran utama (WIGs), biasanya orang terus melihat dan mengamati lag measure dan berusaha keras untuk mencapainya. Namun, paradigma baru mengatakan seharusnya kita bertindak berdasarkan lead measure yang merupakan penduga terbaik untuk mencapai sasaran.

Contoh sederhana, kita tidak bisa mengontrol berapa sering mobil kita mogok dalam perjalanan (lag measure). Namun, kita bisa mengontrol berapa sering kita melakukan perawatan mobil tersebut (lead measure). Makin sering kita bertindak berdasarkan lead measure, yaitu melakukan perawatan rutin, maka kita akan terhindar dari masalah mobil mogok di perjalanan.

Pengelola destinasi tidak bisa mengontrol jumlah pengunjung yang akan datang ke destinasinya, dan berapa lama serta berapa banyak uang akan dibenlanjakan di destinasi wisata. Namun dengan perspektif lead measure, pengelola destinasi bisa mempengaruhi keputusan wisatawan dengan promosi dan pemasaran melalui berbagai media milik sendiri ataupun berbayar untuk ulasan pariwisata yang menarik, yang menjangkau audiens luas atau audiens dengan target segmen yang spesifik.

  1. Keep a compelling scoreboard

Memastikan setiap orang mengetahui perkembangan apakah sedang dalam posisi menang atau kalah. Mencatat pencapaian kinerja terhadap lead measure dan WIGs ke dalam papan skor. Ini adalah disiplin untuk engagement tim.

Bagaimana membuat scoreboard yang memotivasi tim? Tentunya harus di visualisasikan secara sederhana. Harus ditempatkan yang dapat dilihat oleh seluruh tim, karena jika tidak terlihat WIG dan lead measure akan mudah dilupakan. Scoreboard juga harus menampilkan lag measure (hasil yang diinginkan) dan  lead measure (apa yang dilakukan dan hasil yang diperoleh) sehingga kita bisa melihat gaps. Yang terakhir, Scoreboard harus menunjukkan dengan mudah indikator tim dalam kondisi menang atau kalah, baik terhadap capaian target ataupun komparasi dengan pesaing.

 Create a cadence of accountability

Menjaga akuntabilitas setiap anggota tim dalam pencapaian tujuan tim. upayakan semua anggota tim akuntabel setiap saat. Karena orang cenderung gampang terganggu fokusnya, sehingga diperlukan interaksi yang sering untuk mengingatkan tujuan dan menjaga komitmen bersama.

Pertama, perlunya diskusi harus seputar perkembangan WIGs. Kedua, pertemuannya harus reguler dan sering (mingguan). Ketiga, harus ada tindak lanjut dan akuntabilitas yang jelas serta harus ada follow through dari sang pemimpin. Keempat, sukses harus dirayakan. Kelima, masalah dan kesulitan dilaporkan secara terbuka. Keenam, harus ada brain storming dan pemecahan masalah yang kuat. Ketujuh, anggota tim harus komit untuk saling membantu. Kedelapan, setelah sesi berakhir semuanya harus tambah semangat.

Anggota tim akan selalu mempunyai komitmen lebih besar terhadap gagasan mereka sendiri daripada perintah atasan. Yang lebih penting, dengan berkomitmen pada rekan-rekan satu tim dan bukan semata pada atasan, akan menggeser penekanan dari semata tanggung jawab professional menjadi komitmen pribadi. Sederhananya, komitmennya bergeser dari pekerjaan menjadi janji pada tim.

4 disiplin dalam majemen keputusan di atas adalah solusi dalam seni membentuk irama untuk mengikat (engagement) pengalaman tim, agar berkolaborasi dalam pencapaian WIG dan lead measure.

Banyak orang beranggapan bahwa engagement terhadap perusahaan akan mendorong hasil (output) kinerja. Namun dengan mempraktikkan 4 disiplin manajemen keputusan ini, justru hasil (output) berupa kemenangan yang akan mendorong dengan lebih dahsyat munculnya keterikatan (engagement) tim, dari pada dorongan yang ditimbulkan dari perolehan gaji, tunjangan, promosi jabatan dan reward insentif lainnya.

The Power of small wins adalah engine yang ampuh untuk memotivasi diri.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

87 − 84 =