50 Megatren Transformasional Pariwisata Digital yang memacu kegesitan (agility) bisnis di tahun 2019

Platform digital telah mengganggu (disrupting) siklus industri pariwisata, dan mengancam bisnis wisata konvensional tersingkir.

Destinasi digital semakin aktif..

Digital marketing wisata semakin masif

Transaksi dan penjualan online produk wisata -pun semakin agresif..

Apalagi, Pariwisata 4.0 merevolusi cara mengelola pengalaman dan hubungan pelanggan wisatawan berbasis digital.

Tidak sedikit pelaku bisnis wisata yang masih konvensional, kian semakin tergerus market sharenya.

Tidak dipungkiri, lambat laun mitra bisnis dan pelanggan akan meninggalkan pelaku bisnis wisata yang masih memperthankan cara konvensional, dan layanann yang tidak user friendly dengan sistem kontemporer.

Semakin suram prospek bisnis perusahaan konvensional, ditegah industri wisata yang justru mulai panen raya.

Memang, era revolusi digital telah mendorong pertumbuhan sektor pariwisata cukup tinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Secara nasional, pertumbuhan kedatangan wisman tahun 2017 mencapai 21,8% dan pergerakan wisnus mencapai 4,7% di bandingkan tahun sebelumnya..

Jadi jika pertumbuhan perusahaan bisnis wisata masih dibawah rasio pertumbuhan secara nasional, maka otomatis penguasaan market sharenya menurun.

Sehingga tidak sedikit fenomena yang terjadi dalam bisnis wisata, meskipun terhitung kinerjanya meningkat dari tahun ke tahun, namun pertumbuhan segmen pasarnnya menurun.

Sebagai contoh untuk study case, capaian kinerja pada salah satu destinasi unggulan program strategis Bali baru, candi Borobudur dan Prambanan yang juga sebagai World Heritage.

Berdasarkan data BPS, Kemenpar dan TWC,  pengunjung pada candi Borobudur dan Prambanan mengalami peningkatan setiap tahunnya.

Seperti halnya kunjungan wisatawan mancanegara mengalami kenaikan tahun 2016: 6,63% dan tahun 2017: 13,42%.

Sedangkan kunjungan wisatawan nusantara tahun 2016: 10,97 % dan tahun 2017: 1,12%.

Namun, dalam hal penguasaan market share Wisatawan mancanegara justru pertumbuhannya mengalami penurunan. Antara lain tahun 2015: 4,8%; tahun 2016: 4,32% dan tahun 2017: 4,02%.

Adapun penguasaan market share wisatawan nusantara pertumbuhannya juga mengalami penurunan, antara lain tahun 2015: 2,05%, tahun 2016:2,21% dan tahun 2017: 2,13%.

Hal ini menjadi early warning bagi pelaku wisata dalam adaptasi  perkembangan bisnis pariwisata digital, agar selaras dengan rasio pertumbuhan kunjungan wisman dan wisnus secara nasional yang semakin tinggi.

Perlu bagi pelaku wisata memahami berbagai tren perkembangan transformasional yang berdampak merevolusi pariwisata, baik dalam hal revolusi pengalaman wisatawan mapun penerapan teknologi digital.

Hal ini menjadi pertimbangan strategis agar perencanaan dan pengelolaan bisnis pariwisata semakin gesit (agility) menyikapi peluang dan mengantisipasi ancaman dan tantangan yang terjadi di masa depan. Sehingga menghasilkan performa yang ekselen dengan dampak yang powerful dan berkelanjutan.

Dinamika dalam 24 jam

Disrupsi digital bukanlah ancaman, bahkan ini menjanjikan peluang yang besar dalam bisnis pariwisata. kita bisa lihat apa yang terjadi dalam sektor pariwisata global dalam 24 jam berikut:

Apa dinamika yang terjadi dalam 24 jam pada sektor pariwisata digital?

Menurut WTTC Th 2017, sektor pariwisata telah berhasil menyumbang 10,4% dari PDB dunia dan menghasilkan 313 juta pekerjaan.

PDB industri Perjalanan & Pariwisata telah melampaui ekonomi global sebesar 4,6%. Tren Pariwsata Global lainnya dalam 24 Jam adalah:

  • Ada 22,7 juta orang yang melewati bandara,
  • 22,5 juta pengunjung di Expedia,
  • 20.000 pekerjaan baru dihasilkan industri perjalanan & pariwisata.
  • Ada 15,2 juta orang mengunjungi Tripadvisor,
  • 14 juta orang melakukan booking di Hotel,
  • 73 ribu orang naik kapal pesiar,
  • 2,52 Milyar USD belanja retail,
  • 1 Milyar USD melakukan transaksi kartu kredit, 1,2 Juta memakai jasa rental Mobil.
  • Ada 5 Milyar pencarian destinasi wisata di Google dengan rata-rata 2 Milyar USD transaksi pembayaran.

Jadi, apa saja megatren transformasional yang akan mempengaruhi dinamika pariwisata digital pada tahun 2019:

#50 Megatren Transformasional Pariwisata Digital 2019

 

#1. Virtual Reality (VR) atau Realitas virtual telah meledak dalam beberapa tahun terakhir, sebagai produk hiburan.

Bisnis pariwisata memanfaatkan teknologi ini untuk pemasaran, dengan visualisasi dari kamera video 360 yang terhubung dengan hedset.

Hal ini membantu menvisulisasikan realitas untuk pelanggan sebagai pengetahuan produk, fitur layanan dan untuk pengalaman pelanggan dalam pertimbangan pengambilan keputusan perjalanan wisata.

#2. Augmented Reality (AR) mirip dengan realitas virtual, tetapi melibatkan lingkungan nyata penggunanya.

Poin plus dari teknologi AR ini adalah lebih murah daripada VR. Pengguna hanya membutuhkan perangkat smartphone atau tablet yang memiliki akses ke internet.

Augmented Reality memanfaatkan lingkungan real-time dari traveller, dengan area 3D pada smartphone untuk membantu memilih obyek  dan atraksi yang akan dikunjungi di destinasi, serta pengkayaan informasi dan pengetahuan lainnya.

#3. Artificial Intelligence (AI). Penerapan AI yang telah diinisiasi, antara lain di Jakarta untuk memprediksi bus Transjakarta yang perlu dikerahkan selama jam sibuk untuk memastikan tidak ada penumpukan penumpang di halte bus. Serta memperkirakan data aliran air untuk mengantisipasi banjir.

Inovasi AI pada wisata Jepang, untuk membantu navigasi para wisatawan menemukan jalan dengan mudahnya.

Seiring perkembangan teknologi AI untuk mengotomatiskan integrasi hampir setiap proses dalam siklus pelanggan: mulai dari memilih destinasi, memesan tiket penerbangan dan destinasi, booking hotel, memilih restoran, sampai media keluhan yang menjadikannya layanan lebih efisien.

Pada tahun 2019, IDC memprediksi bahwa 40% inisiasi transformasi digital akan disokong oleh AI dan kemampuan kognitif  yang mendorong pertemuan antara big data, ubiquitous, dan komputasi awan yang kuat.

#4. Tren teknologi Internet of Things (IoT), dimana 86% perusahaan di Asia Pasifik yang menggunakan Internet of Things di 2019, untuk menerapkan sensor ke mesin dan benda.

Penerapan IoT pada kamar hotel agar pelanggan memungkinkan mengontrol dengan satu perangkat yang terhubung ke akses, lampu, pemanas dan pendingin ruangan.

Era perkembangan smart destination berbasis IoT, akan lebih memudahkan dalam visitor management, sensor kamera keamanan, penyewaan sepeda, dan otomasi sistem parkir. Ekosistem komputer, smartphone, kendaraan transportasi, Produk pakaian, pakaian pintar, rak pintar dll.

#5. The Robotic Revolution. Teknologi robot semakin populer dalam industri perjalanan, hotel, agen perjalanan dan bisnis lainnya.

Robot untuk perhotelan memiliki chatbots yang tersedia 24/7, dengan waktu respons yang hampir seketika, sehingga dapat digunakan untuk mengurangi antrian. Robot untuk tugas front office, informasi pelanggan, penitipan barang, dan pengantaran, dengan memanfaatkan suara, pengenalan wajah dan teknologi AI.

Bagi traveller tersedia Travelmate, koper robot, untuk mengikuti pemiliknya secara otonom, pendeteksi tabrakan dan kemampuan memutar 360 derajat. Di bandara robot berfungsi untuk media informasi & keamanan. Untuk agen perjalanan, Robot dapat berfungsi sebagai media informasi & penghibur (game).

#6. Big Data mengubah industri pariwisata dengan memberikan insights dalam memahami perilaku dan meningkatkan aktivitas hubungan dengan e-traveller.

Wisatawan meninggalkan berbagai jejak digital saat menggunakan teknologi seluler  untukkebutuhan wisata – meneliti destinasi, memesan tiket, transaksi pembayaran, dan mem-posting status pada umpan jejaring sosial media.

Pelaku industri pariwisata mulai beralih ke menganalisa Big data untuk menemukan pola wisatawan dalam menghasilkan peluang produk, cara baru menawarkan,  mempengaruhi pengambilan keputusan, mekanisme pembelian dan transaksi, serta pengembangan model bisnis wisata.

Big data untuk mendukung pengalaman dan menyediakan analitik prediktif yang superior untuk meningkatkan kepuasan, memberikan pengalaman bernilai dan memenuhi harapan wisatawan.

#7. Integrasi Mobile. Di zaman smartphone, integrasi seluler untuk hotel dapat memfasilitasi pemesanan kamar, pemesanan restoran, permintaan layanan kamar, dan janji spa.

Integrasi seluler dapat digunakan untuk mengirim broadcaast pesan promosi kepada target audiens yang paling relevan, berdasarkan geo-location.

Mempromosikan jadwal event dan pertunjukan atraksi, promosi kuliner dan paket wisata dapat dikombinasikan dengan teknologi IoT yang memungkinkan tamu mengontrol peralatan didalam ruangan kamarnya.

#8. Blockchain Business. Hype seputar Bitcoin dan kecepatan penyebaran cryptocurrency, telah memiliki implikasi global yang nyata bagi ekonomi, dan Industri pariwisata dan perjalanan senilai $ 7,6 triliun dolar.

Blockchain diindikasi dapat mengatasi biaya tersembunyi sekaligus menghilangkan inefisiensi di pasar transaksi pariwisata dengan menghemat sampai 30 persen.

Manfaatnya platform Blockchain dapat menurunkan biaya transaksi, mengurangi waktu yang diperlukan untuk reservasi, mengurangi kompleksitas proses pembatalan dan pengembalian uang serta melindungi pengguna dari fluktuasi mata uang asing.

#9. Otentikasi Biometrik adalah teknologi Pengenalan wajah yang bermanfaat untuk konsumen dengan teknologi pengenalan Touch ID dan ID Wajah.

Dalam konteks perhotelan, konsumen dapat mengautentikasi transaksi pembeliannya tanpa kartu kredit/debit, online payment bahkan dompet digital. Sifat otentikasi biometrik memungkinkan untuk pembayaran transaksi pelanggan, tanpa perlu menunggu intruksi atau membayar dengan interaksi terminal.

Karena infrastruktur, persyaratan keamanan dan cara kerja sistem pemrosesan kartu kredit yang rumit, kemampuan teknologi ini mungkin memerlukan beberapa waktu untuk berevolusi hingga lima tahun kedepannya.

#10. Digital Assistance. Hampir 70% permintaan ke Asisten Google dinyatakan dalam bahasa alami, yang berarti bahwa orang semakin nyaman melakukan percakapan dengan komputer (Google / Phocuswright, 2017).

Lebih dari 1 dari 3 wisatawan di seluruh negara tertarik menggunakan asisten digital untuk melakukan riset,  memesan perjalanan, mencari hotel hingga penerbangan, dan hal-hal yang harus dilakukan di tempat tujuan (Google / Phocuswright, 2017).

Jika perusahaan tour & travel memberikan layanan tambahan informasi berupa preferensi berdasarkan pengalaman perjalanan wisatawan di masa lalu, maka 36% kemungkinan akan membayar lebih untuk layanan tersebut (Google / Phocuswright, 2017).

#11. Cloud computing. Selama tahun 2018, lebih dari 60% dari semua data bisnis telah berbasis cloud. Transformasi digital yang mendisrupsi bisnis wisata, terdiri dari pemindahan penanganan data harian lokal ke arsitektur komputasi terdistribusi di cloud.

Ini menurunkan atau menghilangkan biaya kepemilikan untuk perangkat keras (server dan media penyimpanan), pembaruan perangkat lunak, pemesanan dan manajemen pelanggan, mengurangi kebutuhan untuk staf dukungan TI dan memungkinkan pembayaran berdasarkan pada apa yang digunakan saja.

Cloud computing juga membawa akses ke teknologi, layanan, dan kapasitas modern untuk mendukung bisnis pariwisata dan menyediakan peningkatan kemampuan dengan biaya lebih rendah ke tingkat efisiensi yang belum perbah dicapai pelaku sektor pariwisata.

#12. Customer Digital Segmentation. Dalam bidang psikografi, mengukur ciri-ciri psikologis yang menilai manusia berdasarkan lima ciri kepribadian, dikenal sebagai “Lima Besar”.

Atau OCEAN: Openness (seberapa terbuka Anda terhadap pengalaman baru), Conscientiousness (seberapa banyak perfeksionis Anda), Extroversion (seberapa akrab Anda), Agreeableness (bagaimana perhatian dan kooperatif Anda) dan Neuroticism (betapa mudahnya Anda kesal).

Pemasaran pariwisata yang menggunakan kampanye promosi dengan segmen yang tertarget berdasarkan konsep demografi, Psychometrics, wilayah geografis,dan  kelompok usia.

Hal ini sudah mulai usang, karena terlalu sederhana untuk bisa mencerminkan realitas bagaimana motif dan keputusan tiket perjalanan serta destinasi didatangi.

#13. Digital Traveller. Istilah pelancong digital diciptakan untuk generasi digital, Milenial. GenZ diasosiasikan dengan angka 8, yaitu jumlah detik yang digunakan Milenial untuk memproses informasi, mempertimbangkannya kemudian pindah ke hal yang menarik perhatiannya.

Dalam waktu 8 detik tersebut, pertaruhan terbaik untuk mempengaruhinya adalah menggunakan gambar atau video daripada kata-kata. Realitasnya, otak Gen Zs menyarankan fungsi yang secara fundamental telah belajar untuk memproses informasi lebih cepat, tetapi mereka juga kesulitan menyimpan data tersebut.

Milenial suka dengan aplikasi media sosial seperti Snapchat dan Whisper lebih dari Facebook dan Twitter, tetapi popularitas Instagram dikalangan Milenial tetap tinggi. 70% Milenial menonton setidaknya dua jam YouTube per hari, dan menerima lebih dari 3000 pesan teks dalam sebulan.

Dengan demikian kita harus memahami harapan, tuntutan, nilai, layanan dan pengalaman transformatif GenY dan GenZ ini karena mereka adalah e-travellers baru dengan daya beli terbesar untuk wisata.

#14. Jejaring Sosial. Sejarah media sosial berevolusi bersama dengan SEO dan Internet. Media sosial, menjadi salah satu “megatrends” global dalam mempengaruhi proses keputusan traveller.

Konsumen telah beralih dengan cepat ke platform pengiriman pesan seperti Facebook Messenger, WeChat, Snapchat, WhatsApp, Viber, dan lainnya.

Dengan sekitar hampir 90% dari semua pesan teks dibaca dalam waktu 3 menit dari pengiriman mereka – dan lebih dari 99% dari semua pesan teks dibaca oleh penerima.

Sifat pesan instan yang real-time, langsung, dan pribadi menjadikannya sebagai saluran pesan dengan tingkat keterikatan (engagement) yang menarik dengan agregat.

Pesan membantu hotel meningkatkan kepuasan tamu, dengan memanfaatkan setiap permintaan, saran, kekhawatiran dan keterikatan melalui testimoni dan refferal dari wisatawan.

#15. Business Management. Perusahaan yang tidak mutakhir dengan teknologi komunikasi modern, misalnya, sangat sulit untuk berbisnis, dan akan kehilangan pelanggan dan rekan kolaboratif.

Dengan revolusi digital seperti Big Data, Komputasi Awan, Mobilitas, Media Sosial, Internet of Things, Pencetakan 3D, display 3D dan holografik, Augmented reality, Artificial Intelligence and Expert Systems, Mobile pembayaran dll.

Maka satu-satunya pilihan adalah merangkul teknologi digital dan sebagai katalisator atau enabler. Perusahaan yang merangkul transformasi digital 26% akan lebih menguntungkan, tetapi sebagian besar organisasi.

#16. Travel Distribution. Mesin pencari memainkan peran mendasar dalam menciptakan lalu lintas ke situs web perjalanan. Sekitar dua pertiga dari pelancong online menggunakan mesin pencari untuk perencanaan perjalanan.

Pemasok pariwisata harus terlibat lebih dalam optimasi mesin pencari canggih, untuk distribusi perjalanan melalui situs web distributor pihak ketiga, yang dikenal sebagai agen perjalanan online (OTA) seperti Priceline, Expedia, dan TripAdvisor.

TripAdvisor serta Google Travel dan Facebook untuk Perjalanan memungkinkan pemesanan langsung dan mulai bersaing dengan layanan pemesanan tradisional seperti booking.com, dan lainnya. Tren baru adalah monetisasi lalu lintas dengan pemasaran online, serta OTA dan perusahaan metasearch yang menyatu.

Ada pergeseran dari pendapatan berbasis transaksi ke pendapatan berbasis iklan, ekosistem metasearch yang lebih luas berubah dari operator rujukan online, OTA menjadi bisnis iklan online super.

Konvergensi dari dua model ini menghasilkan Retail Online Travel Retailer, sementara perusahaan metasearch mendapatkan hubungan yang lebih dekat dengan pelanggan melalui OTA.

#17. Tourism Marketing. Pemasaran di media sosial adalah sektor yang paling cepat berkembang dalam pemasaran digital. Meski retensi pelanggan biasanya rendah di bidang pariwisata. Kebanyakan bepergian hanya beberapa kali setahun, dengan satu atau dua kali perjalanan internasional.

Penelitian telah menunjukkan bahwa pengaruh interpersonal dan word-of-mouth (WOM), dan ketika menjadi digital, word-of-mouth elektronik (eWOM), merupakan peringkat sumber informasi paling penting bagi konsumen saat membuat keputusan pembelian. Melihat, industri pariwisata adalah produk intangible yang sulit untuk dievaluasi sebelum dikonsumsi.

Pemasaran wisata yang berbasis konteks, media sosial dan personalisasi, melalui perangkat mobile, menghasilkan pemasaran konteks sosial (SoCoMo).

Pemasaran SoCoMo untuk merevolusi penawaran, melalui informasi, kontekstual, proses pengambilan keputusan, konsumsi pengalaman, pengembangan produk dan layanan secara real-time dan dinamis bersama konsumen.

#18. Digital Mobile Behaviour. Perilaku wisatawan dan penggunaan teknologi digital, harus di kaitkan dengan bagaimana evolusi pariwisata dengan evolusi platform digital sebagai saluran komunikasinya.

Dalam perjalanan wisata, penggunaan informasi digital secara mobile tidak kemudian merubah secara fundamental wisata yang dilakukan. Pada dasarnya siklusnya terdiri dari, fase sebelum wisata (pra-pengalaman), fase perjalanan wisata (fase pengalaman) dan fase setelah berwisata (fase pasca-pengalaman).

Hasil studi Google menunjukkan: Digital adalah sumber utama inspirasi perjalanan wisata, Pada awal perencanaan, wisatawan menggunakan mesin pencari. Fase penelitian dengan mempertimbangkan dan membandingkan banyak pilihan brand wisata.

Smartphone sangat penting di semua tahap yang mempengaruhi keputusan dalam pemesanan. Media video menjadi kunci untuk inspirasi dan perencanaan wisata, dan berpengaruh pada separo wisatawan yang merubah perencanaan awal dalam berwisata.

#19. Multimodality – Kaum generasi milenial tidak hanya menginginkan wisata nyaman dan bisa membagikannya melalui media sosial. Tren traveller saat ini juga memerlukan kecepatan dan manfaat dari berbagi informasi tumbuh secara eksponensial.

Traveller mengkonsumsi dan berbagi informasi menggunakan berbagai modalitas – kata, gambar, suara, dan video. Instan, intuitif, dan bermanfaat. Traveller dengan cepat mencari, menonton, mendengar, membaca, mengetik, dan berbicara – semua pada saat yang bersamaan. Pola pikir multimodal adalah tentang kecepatan, pilihan, dan “faktor keren“.

Hal ini juga mempengaruhi bisnis pengiriman yang dituntut mampu melayani yang serba Instan, cepat dan kekinian. Barang dan jasa harus “siap” di masa depan dan tersedia bagi pelanggan kapan saja dan di mana saja.

#20. Bot – adalah perangkat lunak yang melakukan tugas otomatis melalui Internet. bot secara tradisional membahas lebih banyak pekerjaan yang berulang dan biasa, tetapi terobosan dalam kecerdasan buatan dan pembelajaran mesin mengubah robot menjadi alat digital yang brilian. Mengotomasi proses bisnis pariwisata dengan bot diharapkan menjadi peluang besar bagi hampir setiap perusahaan.

#21. Data Science. Penggunaan analitik data yang efektif akan menentukan siapa yang bertahan dan menjadi pemenang akan mengoperasionalkan wawasan kunci yang berasal dari data besar dan logika matematisnya untuk mengembangkan produk, penawaran, memberikan layanan pelanggan yang jauh lebih proaktif, tepat waktu, dan kognitif.

#22. Conversational Commerce. Percakapan digital adalah bentuk interaksi pelanggan yang baru. Platform utama yang menjadi ekosistem bagi pengecer, brand, dan penyedia layanan, yang dapat memanfaatkan komersialisasi jejak digital percakapan wisatawan.

#23. Arsitektur microservice memiliki keunggulan utama yang berdampak positif bagi perkembangan dalam sistem teknologi, yaitu language agnostic.

Jika sebelumnya pada arsitektur monolitik suatu sistem dibuat menggunakan satu bahasa pemrograman, dengan microservice dapat di pecah-pecah ke dalam bagian-bagian yang lebih kecil, dengan beragam bahasa pemrograman.

Kegagalan dalam satu microservice tidak berdampak pada yang lain, memberikan keandalan yang tak tertandingi di mana “jika salah satu gagal, yang lain menunggu tepat di belakang”.

#24. Connectedness Revolution. Ratusan ribu miliar sensor diprediksi pada tahun 2030, akan menghubungkan dan mengendalikan “segalanya”.

Sensor-sensor yang terhubung dengan intelijen yang mengawasi setiap langkah yang kita ambil terdengar seperti Fiksi Ilmiah, tetapi Internet of Things ini telah menjadi kenyataan di banyak bidang.

#25. Personalized Revolution. Personalisasi adalah kebutuhan dalam pengalaman pelanggan wisatawan. 57% wisatawan merasa bahwa merek harus menyesuaikan informasi mereka berdasarkan preferensi pribadi atau perilaku masa lalu (Google / Phocuswright, 2017).

Pencarian di Internet semakin dipersonalisasi secara cerdas. Dengan algoritme yang dikembangkan oleh Google dan Facebook, melalui autentikasi otomatis berdasarkan jejak digital yang ditinggalkan.

#26. Availability revolution. Industri wisata memiliki setiap perpustakaan yang siap diakses langsung dari ujung jari kami Industri wisata juga memiliki akses ke program universitas, pembicaraan informatif, dan jurnal dari seluruh penjuru dunia.

Berkat ketersediaan dan revolusi seketika, pelaku wisata bisa menjadi lebih pintar dan lebih terdidik daripada generasi mana pun yang pernah kita impikan sebelumnya.

#27. Low Cost Revolution. Globalisasi dan otomatisasi memberi kita tenaga kerja murah dan gadget yang hampir tanpa biaya. Ekonomi digital menghasilkan model layanan berbiaya rendah ke tingkat produk digital (aplikasi, musik, film, informasi, dll.) yang dapat digandakan dan didistribusikan tanpa biaya sama sekali.

#28. New Futures. Minat wisata ruang angkasa melalui perusahaan swasta seperti Virgin Galactic, SpaceX, Blue Origin, XCOR Areospace dan lainnya berencana untuk mengirim wisatawan ruang angkasa pada perjalanan sub-orbital, dan SpaceX bahkan pada lintasan bebas lunar.

#29. New ownerships. Dengan menggunakan platform digital, para traveler menikmati seamless customer experience. Dalam mencari (look), memesan (book), dan membayar (pay) layanan wisata. Model bisnis berbagi yang dilakukan oleh generasi baru untuk melakukan bisnis wisata menjadi cara yang efisien karena berbagi dalam memanfaatkan aset atau resources.

Pemimjaman dengan berbagi bagi wisatawan berfungsi memaksimalkan kenyamanan dan fleksibilitas serta meminimalkan kerempongan, kerumitan dan biaya.

#30. New Values and Beliefs. Generasi milenial pada 2019, jumlah mereka diproyeksi sebanyak 23,77 persen dari total populasi Indonesia yang mencapai 268 juta jiwa.

Pelaku wisata jangan sampai kecolongan untuk mengantisipasi potensi wisatawan milenial. Diproyeksikan pada 2030 mendatang, pasar pariwisata Asia didominasi wisatawan milenial mencapai hingga 57 persen.

Makin banyaknya angkatan usia produktif di antara generasi milenial dengan literasi teknologi yang tinggi, generasi ini semakin terlihat bergerak ke arah self-employment atau pekerjaan yang memberikan mereka lebih banyak ruang untuk kebebasan individu. Mereka ingin dibayar dengan baik untuk pekerjaan mereka.

#31. Harapan atau Ketakutan? Muncul dua perspektif yang sangat berbeda tentang masa depan pekerjaan. Banyak praktisi teknologi yang hebat menginginkan masa depan di mana segala sesuatunya otomatis, sementara yang lain melihat beberapa pekerjaan menjadi usang.

Survei Forum Ekonomi Dunia  menyebutkan ada 7,1 juta pekerjaan yang perlahan-lahan akan hilang karena tak lagi dibutuhkan. Teknologi juga menyebabkan batasan ruang lingkup kerja semakin samar dan pekerja-pekerja kontrak bebas tumbuh pesat. Yup, kita telah mamasuki babak virtual office.

#32. Star Trek economy. Pasar dan persaingan tunduk pada bentrokan visi. Gagasan di masa depan, berkat teknologi dan otomatisasi, semuanya akan ada dalam kelimpahan: data, informasi, energi, daya komputasi, dan kecerdasan.

Semua produk seperti buku, musik, film kehilangan wadah fisik untuk ditransfer di “cloud” alias awan digital tak bertepi. Dalam “awan digital” tempat menyimpan segala hal itu hampir semua biaya jadi turun drastis karena membludak volumenya.

Kapabilitasnnya meningkat berlipat dua kalinya setiap 18 bulan, atau jadi lebih murah setengahnya. Biaya marjinal akan mendekati nol, baik di dunia digital maupun dunia fisik.

#33. Mixed Reality. Gambar holografik menandakan dimulainya era tanpa layar. Membatasi pengalaman pengguna ke layar adalah sesuatu dari masa lalu. Mixed Reality memungkinkan presentasi dalam destinasi dan atraksi wisata berupa realistis proyeksi 3D interaktif dalam interaksi langsung. Penerapan di galeri dan museum sebagai atraksi digital, akan memberikan pengalaman dan daya tarik pengunjung.

#34. 4D Printing. Material menjadi mesin. 3D berubah menjadi 4D. Pencetakan 3D, juga dikenal sebagai “Additive Manufacturing”, mengubah cetak biru digital menjadi objek fisik dengan membuat layer demi layer.

Pencetakan 4D didasarkan pada teknologi ini. Dengan satu perbedaan besar: Menggunakan bahan-bahan khusus dan desain canggih yang “terprogram” untuk mendorong cetakan 3D Anda untuk mengubah bentuknya.

4D printing menjadi salah satu solusi kreatif untuk menghasilkan daya tarik baru di destinasi wisata, khususnya kebutuhan nomadic tourism. Pembuatan dari dekorasi panggung yang unik sampai kebutuhan portable toilet untuk kebutuhan penyelenggaraan event.

#35. Quantum Clouds. Kekuatan komputasi supercepat melalui komputasi kuantum sebagai layanan. Perusahaan D-Wave Systems adalah penyedia komputasi kuantum komersial pertama. Komputer kuantum sekitar 100 juta kali lebih cepat daripada komputer konvensional. Di masa depan, dimungkinkan untuk memesan dan memperoleh daya komputasi dari cloud. Awan kuantum bisa menjadi platform masa depan dan akan disediakan oleh perusahaan seperti Amazon atau IBM dan memicu era hypercomputation.

#36. Attention Economy. Era marketing 4.0 adalah eranya kompetisi memenangkan perhatian pelanggan. Orang lebih percaya pada yang mereka kenal dan konten terkemuka, dibandingkan iklan.

Bahkan, 30 persen dari semua pengguna internet diperkirakan akan menggunakan pemblokir iklan pada akhir tahun 2018 ini. Diperlukan kreativitas, bukan konformitas, yang akan membuat para marketer sukses memikat sudiens.

Memahami bagaimana pelanggan Anda berkomunikasi sangat penting. Pelanggan berharap bahwa perusahaan wisata berkomunikasi dengan cara yang pelanggan sukai.

#37. Autonomous systems. Ketika otomatisasi meningkat, seberapa banyak pekerjaan yang Do It Yourself (DIY) dibandingkan dengan seberapa banyak yang Done For You (DFY).

Berkat kemajuan dalam AI, otomatisasi tidak lagi terbatas pada tugas-tugas fisik. Mobil otonom tanpa sopir, robot dan virtual assisstance adalah contoh tantangan yang akan mereduksi bagaimana Done For You (DFY).

Industri pariwisata harus mendorong penciptaan lapangan kerja, dan otomatisasi yang mempercepat pergeseran dari tugas-tugas yang berpusat pada data ke lebih banyak peran yang melibatkan interaksi manusia, menciptakan pengalaman yang unik dan mengesankan bagi pelanggan.

#38. Connected World. Meningkatnya tingkat koneksi menyebabkan dinamika sosial baru yang menggabungkan kontribusi individu dengan pengalaman berbasis komunitas.

Konsumen telah memberi jalan kepada prosumer, yang sekarang terlibat dalam banyak tahapan rantai nilai – dari menghasilkan ide untuk produk baru, hingga membantu memutuskan jangkauan dan proses pemasaran, menandai masuknya era pemberdayaan konsumen dan masyarakat  yang didukung secara digital.

#39. Continental Shift . Perkiraan menunjukkan bahwa negara-negara industri Barat pengaruhnya akan menjadi kurang penting bagi perkembangan ekonomi dunia di masa depan. Digantikan oleh apa yang dulu dikenal sebagai negara berkembang seperti Cina, Jepang, Indonesia dan lainnya.

#40. Data Era. Setiap hari melihat munculnya 2,5 exabyte data baru, dan angka tersebut berfungsi ganda setiap 40 bulan. Hari ini, lebih banyak data melalui internet setiap detik daripada yang disimpan.

Kita setiap harinya menghasilkan data – kegiatan media sosial, pencarian di mesin dan aktivitas di smartphone kita telah membawa pertumbuhan dalam basis data.

Informasi berharga dapat diekstraksi dari banyak data. Dengan bantuan teknik big data, perusahaan mulai menyisir data pelanggan mereka untuk mencari pola baru dalam menyusun strategi dan intelejen bisnis.

#41. Distrust Society. Ketidakpercayaan Masyarakat – merebaknya hoax dan berita tentang politik. Kecenderungan meningkatnya ketidakpercayaan dalam komunikasi publik dan interaksi antara individu dan lembaga.

#42. Healthstyle. Kesehatan bukan lagi sekadar tidak adanya penyakit, tetapi merupakan gaya hidup tersendiri. Asisten dan konsultan kesehatan pindah ke rumah dan perangkat smartphone.

#43. The Outernet adalah infrastruktur teknis masa depan. Orang-orang sekarang memasuki hubungan baru dengan objek dan informasi. Tahap selanjutnya adalah objek yang menghubungkan satu sama lain dan membentuk Web of Things.

#44. Seamless Commerce. Revolusi digital telah mengubah dunia ritel secara terbalik. Perbatasan antara e-commerce dan m-commerce menjadi semakin kabur, di mana tujuan Omnichannel adalah Seamless Commerce.

#45. Shy Tech. High Tech telah menjadi Shy Tech, yang bekerja dengan tenang di  belakang. Perangkat rumit dengan switch, kabel, dan tombol digantikan oleh antarmuka interaksi intuitif yang mengintegrasikan dirinya sendiri dalam objek sehari-hari.

#46. Skill Society . Fokusnya di sini adalah pada transfer pengetahuan dalam pengalaman melalui aplikasi praktis. Perusahaan harus terus bekerja dengan inovasi melalui metode kerja kolaboratif dan usaha patungan yang baru. Pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman akan tumbuh dalam relevansi karena kita saat ini berada dalam fase transisi antara masyarakat pengetahuan dan masyarakat berketerampilan.

#47. Sustainability. Destinasi yang berkeberlanjutan merupakan topik yang berpengaruh dalam pariwisata beberapa dekade terakhir dan tetap demikian hingga saat ini. Penggunaan lingkungan berkelanjutan, energi terbarukan dalam mengelola destinasi wisata. Issu wisata ramah telah berkembang tidak hanya berkaitan dengan lingkungan ekosistem, melainkan ramah untuk anak-anak, kaun difabel, dan manula.

#48. Transhumanism. Dengan kemungkinan-kemungkinan baru, keterbatasan alami tubuh manusia tidak lagi tampak absolut. Mulai dari kaki palsu hingga elektronik yang dipasang di dalam atau di tubuh dan tepat hingga masuknya robot kecil yang otonom dan mikroorganisme yang dimanipulasi dalam aliran darah – tidak ada prosedur yang berlangsung di dalam organisme manusia sekarang tampak di luar batas.

Kualitas hidup yang lebih tinggi secara keseluruhan melalui perbaikan baru dalam rekayasa biologis, peningkatan manusia, teknologi yang dapat dipakai, antarmuka otak-komputer.

#49. Urbanisation. Setengah dari populasi dunia sudah tinggal di kota-kota saat ini. Menurut perkiraan, angka ini akan naik menjadi 75% pada tahun 2050. Konsep untuk kota-kota ekologis akan meminimalkan dampak kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh pusat perkotaan serta meningkatkan kualitas hidup orang.

Penduduk kota itu sendiri akan membentuk kembali lingkungan perkotaan mereka sendiri dengan mengaburkan perbedaan antara kota dan desa. Wisata desa kembali menjadi tren era di 2019.

#50. Digital Business Model. Pelaku bisnis pariwisata terdorong untuk menggarap pangsa pasar yang belum banyak dijamah, dan memangkas produk yang dinilai tidak efisien. Selain itu dilakukan shifting, merger, akusisi, konsolidasi dan afiasi dalam manajemen destinasi dengan perusahaan besar dan start-up digital.

Perkembangan teknologi telah mempercepat laju pengembangan bisnis pariwisata. Prediksi yang fleksibel dan pemodelan bisnis wisata saat ini dipandang lebih relevan dibandingkan model tradisional, seperti rencana strategis lima tahun.

Terdapat 5 (lima) peran utama yang menjadi tantangan regulator dan pengelola pariwisata dalam mengembangkan kapabilitas pekerja pariwisatanya, agar berdaya-saing digital, yaitu:

Penguasaan dan kompetensi bidang keamanan informasi, manajemen bisnis, analitik big data, transformasi digital, dan analitik digital.

Demikian sekilas tren transformasional pariwisata digital, yang akan mewarnai dinamika bisnis dan mempengarui kecepatan serta kecekatan industri, beserta para pelaku wisata yang mau tidak mau, suka tidak suka akan terlarut dalam turbulensi perkembanganya. Hal ini agar menjadi catatan sebagai refleksi dan review di akhir tahun.

Salam Pariwisata #semakinekselen #semakinmendunia

Guswa

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

34 + = 41