5 Peran Powerful untuk Menata Kelola Manajemen Destinasi 2019

Menjelajahi destinasi idaman adalah keinginan banyak orang. Dengan teknologi dan bantuan social media, destinasi unik yang semula terpencil dan tidak terjangkau kini mulai diketahui dan ramai dikunjungi orang. Bahkan yang semula bukan destinasi wisata, kini banyak di make over sehingga  menjadi destinasi baru yang menarik dan saleable.

Meskipun, kita banyak juga melihat fenomena destinasi diambang kepunahan yang miris. Seperti Maladewa yang terancam terendan air laut. Hutan Madagaskar karena ancaman penebangan hutan masif. Great Barrier Reef karena ancaman perubahan iklim. Bagan Myanmar yang bangunan pagodanya hancur karena dipanjat pengunjung untuk berfoto selfie, dan masih banyak lagi.

Destinasi yang akan datang, mungkin tidak hanya meyediakan pengalaman (experiences) tapi juga imajinasi tingkat tinggi untuk pengunjungnya. Saat inipun bahkan kita bisa menikmati Kamar hotel bawah laut seperti suite Neptune dan Poseidon di Atlantis Hotel Dubai.

Seperti di lansir di laman Bright Side, gambaran destinasi untuk 30 tahun yang akan datang, seperti misalnya Proyek kota terapung Ecopolis, kota masa depan yang mampu menampung 50 ribu orang dengan energi terbarukannya. Hydrogenase gedung pencakar langit yang sekaligus pesawat dan taman melayang. Atau bahkan berwisata ke destinasi luar angkasa.

Apapun destinasinya, tidak bisa lepas dari Destination Management Organization (DMO) yang merupakan pendekatan dalam rangka meningkatkan tata kelola destinasi pariwisata untuk mewujudkan nilai attractiveness, competitiveness dan sustainability sehingga kinerja bottom lines business sektor pariwisata menjadi lebih unggul.

Merubah destinasi wisata saja tidak cukup. Perusahaan/organisasi pengelola destinasi harus juga melakukan perubahan dan pembenahan dengan re-engineering manajemen destinasi.

Dalam artikel kali ini, kita akan bagikan informasi peran utama apa saja dalam re-engineering dalam Destinasi Internasional yang  populer dan powerful di masa depan .

Skema Re-engineering Destination Management Masa Depan

 

1. Kurator Konten Destinasi

 

Secara historis, Organisasi destinasi memposisikan diri sebagai gatekeeper saluran informasi destinasi wisata. Mereka jarang menghasilkan konten destinasi sendiri, hanya mengandalkan pemangku kepentingan, biro jasa perjalanan, penerbit pihak ketiga atau jurnalis untuk menghasilkan konten cerita tentang destinasi untuk publisitas melalui saluran terbatas.

Konten yaitu dimensi differensiasi yang menunjuk pada “apa” value yang ditawarkan kepada pelanggan. Jadi di sini perusahaan membedakan diri dari pesaing anda berdasarkan “apa” yang anda tawarkan kepada pelanggan. Dunia saat ini sudah kebanjiran konten. Banjir konten ini dipicu dengan munculnya situs situs yang bersifat user generated content, dan ini telah menciptakan paradoks bagi pelanggan -dan peluang bagi Organisasi Manajemen Destinasi. Di satu sisi, pelanggan wisatawan menemukan diri mereka di dalam lautan konten yang terus tumbuh dan bertambah. Namun, mereka tetap terus berjuang menemukan konten yang mereka butuhkan untuk membantu dalam pertimbangan membuat keputusan perjalanan wisata. Dan seringkali konten yang tersedia, tidak memproyeksikan esensi otentik dari destinasi.

Preferensi konsumsi konten oleh pelanggan juga telah bergeser (shifting) secara signifikan. Lebih dari 60% lalu lintas pencarian di mesin pencari setiap harinya dihasilkan melalui seluler, dan konten video diperkirakan akan meningkat lebih dari 70% dari lalu lintas internet yang terjadi pada tahun 2017 (per Syndacast), dan transaksi perjalanan wisata telah menjadi percakapan multi-media. Ini telah mendorong perusahaan seperti Facebook untuk menyelaraskan seluruh pengalaman keterlibatan penggunanya melalui pemanfaatan video seluler.

Dengan akses tanpa batas dan maraknya  rekayasa untuk Search Engine Optimization (SEO) juga memperparah membludaknya konten. Batasan antara pembuat konten dan konsumen dalam saluran informasi dan alat penerbitan konten, secara efektif menjadi tidak jelas. Dan dengan proliferasi berbagai platform / format pengiriman konten, memicu terbatasnnya saluran informasi perjalanan wisata yang pasti. Terdapat slogan klise yang selalu dikutip media, yaitu “Content is King“.

Saluran komunikasi pasar konvensional dalam pemasaran destinasi telah terganggu. Pelanggan mencari akses untuk konten yang menarik dan relevan, secara konsisten menginformasikan pengalaman destinasi yang otentik untuk panduan perjalanan dan  berwisata menjadi lebih mudah dengan risiko yang lebih terkendali

Perusahaan/Organisasi destinasi perlu mengembangkan perannya, dari pengelola saluran informasi destinasi wisata  ke tahap sebagai  kurator konten dan story-teller. Perusahaan/Organisasi perlu fokus pada pengembangan dan pengiriman konten yang menarik dalam format dan platform yang dapat diakses oleh pengunjung. Kurator perlu kurasi dari berbagai konten, yaitu: laporan berita, blog, tweet, video, foto. Kurasi terbaik yaitu yang menggabungkan berbagai jenis konten. Agregasi dan kurasi adalah teknik menggunakan konten dari sumber lain untuk menyediakan konten destinasi untuk audiens.

Ini berarti pergeseran dari format media statis ke dinamis seperti video yang dikirim dari perangkat seluler, bukan desktop. Elemen kunci akan menjadi persyaratan bagi kapabilitas organisasi destinasi untuk memperoleh dan meningkatkan kompetensi karyawannya sebagai pengembangan konten yang diperlukan sebagai bagian dari kompetensi inti organisasi destinasi yang akan datang.

Pertimbangkan untuk setiap menit setiap harinya:

  • 3,5 juta kueri penelusuran dilakukan di Google (60% dari perangkat seluler);
  • 4,1 juta video dilihat di YouTube (Konsumen lebih memilih video 4: 1 melalui cetak untuk mempelajari tentang produk atau layanan)
  • 200 gambar yang diposting di Instagram (48% pengguna menggunakan platform untuk membantu memilih tujuan liburan)
  • 853 ponsel baru diaktifkan di AS saja

 

2. Adopsi Intelijen Bisnis dan Sains Data

 

Hampir sepuluh tahun yang lalu, ekonom Google, Hal Varian menekankan pentingnya analitik bisnis. Dengan data yang diproduksi sekarang dilaporkan dalam exabyte, zettabytes, dan yottabytes, sangat penting bahwa organisasi manajemen destinasi mengembangkan strategi untuk mengadopsi pemanfaatan big data dan intelejen bisnis sebagai pertimbangan dalam pengambilan keputusan strategis dan operasional bisnis pariwisata.

Selama bertahun-tahun, organisasi manajemen destinasi menolak berinvestasi untuk peningkatan kemampuan analitik bisnis, alih-alih mengandalkan intuisi dan pengalaman untuk membuat keputusan strategis. Anggapan bahwa tidak setiap keputusan manajemen harus difilter dengan pertimbangan hasil analisis bisnis dan filter data. Namun hasil kajian menunjukkan sangat menggembirakan, melihat bahwa 6 dari 25 strategi destinasi masa depan teratas terkait dengan peran intelejen bisnis dan Ilmu data.

Mengelola dan menganalisis data melibatkan pengumpulan dan eksplorasi data yang sistematis untuk membantu suatu organisasi manajemen destinasi membuat keputusan strategis dan mendapatkan keunggulan kompetitif. Jika dilakukan dengan pendekatan yang benar, maka akan mendorong kesiapan organisasi manajemen destinasi untuk menjadi lebih proaktif dan inovatif dalam menyikapi perubahan disrupsi.

Organisasi manajemen destinasi harus mempertimbangkan kerangka kerja ‘keseluruhan bisnis’ dengan mengidentifikasi peluang yang tepat dalam menggunakan analitik data untuk mendorong pengambilan keputusan strategis mengenai audiens utamanya – apakah itu pelanggan wisatawan, pelanggan tour & travel, pelanggan MICE, pelanggan Culture tourism, Ecotourism dan media, dan / atau pemangku kepentingan. Nilai bisnis yang diperoleh dengan menggunakan intelijen bisnis dan  Ilmu data adalah untuk meningkatkan pertumbuhan dan pendapatan pengunjung melalui peningkatan kemampuan selektivitas pelanggan.

Pengukuran (measurement) berbasis data bukan menjadi hal yang segala-galanya dalam manajemen, tetapi jika dikaitkan dalam konteks perbaikan, pengukuran berbasis data merupakan hal yang paling penting dalam memberikan informasi dan pertimbangan dalam pengambilan keputusan.

Keputusan manajemen itu tidak hanya berbicara mengenai pengukuran data saja, tetapi juga bagaimana data tersebut dapat dikonversi menjadi informasi yang cerdas, sehingga dapat mendukung para pengambil keputusan agar tepat dalam memberikan keputusan manajerialnya. Karena jika salah dalam menginterpretasi data, maka akan salah dalam mengambil keputusan. Jika salah mengambil keputusan maka akan salah dalam mengelola

 

3. Katalisator Pembangunan Ekonomi

 

Sebagai pemimpin di sektor ekonomi global, pariwisata menghasilkan pendapatan investasi, pendapatan ekspor dan perdagangan domestik dan internasional untuk destinasi. Hampir 10% dari produk domestik bruto (PDB) dunia berasal dari industri pariwisata. Perluasan perjalanan wisata dan even bisnis sangat ditunggu-tunggu oleh ribuan destinasi di seluruh dunia, meskipun sering dilihat dan distrategikan secara berurutan dengan prioritas ekonomi sektor lainnya.

Sektor kepariwisataan akan berfungsi sebagai katalisator pembangunan (agen of development) sekaligus akan mempercepat pembangunan itu sendiri. Bahkan pariwisata sebagai “Quick Yielding Industry” atau industri yang cepat menghasilkan, jika dibandingkan dengan melakukan pengiriman komoditi ke luar negeri (ekspor) yang memakan waktu relatif lebih lama.

Studi yang baru-baru ini diterbitkan oleh Ramphul Ohlan dari Universitas Maharshi Dayanand di Haryana, India, menawarkan pembenaran bagi pemerintah untuk berinvestasi dalam industri pariwisata sebagai sarana untuk menyegarkan pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Penelitian, yang dilakukan di India, menunjukkan bahwa pariwisata dapat diandalkan untuk menstimulasi kemakmuran ekonomi dan, untuk alasan ini, pembuat kebijakan harus memberikan pertimbangan yang cermat dalam mendorong aktivitas pariwisata yang masuk.

Organisasi manajemen destinasi memiliki peran penting untuk dimainkan dalam merangsang ekonomi dan mempengaruhi pemerintah sebagai pembuat kebijakan – dengan menjadi katalis untuk membantu masyarakat wisata dalam menumbuhkan perdagangan dan pertukaran mata uang asing (valas), meningkatkan investasi dalam infrastruktur amenitas, akses dan atraksi pariwisata, menciptakan lapangan kerja, membangun pengetahuan, dan menghasilkan pendapatan untuk negara dan masyarakat.

Strategic destination marketing merupakan proses manajemen strategis yang menggunakan pendekatan integrated driven atau pendekatan yang mempertimbangkan sisi pasar dan sumberdaya secara seimbang (balance), karena pada dasarnya strategi pemasaran destinasi harus mengacu pada bottom lines pembangunan destinasi yaitu sustainable tourism development.

 

4. Aktif dalam Forum Organisasi Manajemen Destinasi

 

Organisasi-organisasi destinasi sering kali berbicara dalam beberapa tahun terakhir tentang perlunya beralih ke peran manajemen destinasi untuk membantu mengembangkan destinasi secara lebih holistik, berbasis komunitas, dan daya tarik ‘sense of place’.

Namun, terlalu sedikit organisasi destinasi yang aktif terlibat dalam pembuatan forum komunitas, dan tidak secara langsung mempengaruhi dan mendorong inisiatif komunitas kunci dengan para pemangku kepentingan lokal di lingkungan destinasi wisata. Hingga saat ini, hanya sejumlah kecil organisasi destinasi di seluruh dunia yang telah mengembangkan atau sedang menyusun rencana induk pariwisata yang proaktif dalam pembangunan kemitraan dengan pemerintah lokal, organisasi dan lembaga masyarakat, komunitas bisnis, industri lain dan mitra lokal, dan penduduk setempat.

Sistem kepariwisatan merupakan suatu sistem yang bersifat terbuka (open system) karena sifat atau karakteristiknya yang multi sektor dan multi dimensi. Keterlibatan organisasi destinasi secara langsung dan kemitraan dalam pembuatan forum komunitas wisata adalah kunci untuk memungkinkan kultivasi (pengolahan lahan), kurasi, dan penyajian dari beragam pengalaman pengalaman otentik bagi pengunjung.

Hasil ini memainkan peran inti dalam vitalitas dan keberlanjutan ekonomi dari destinasi. Namun dalam pembuatan tempat destinasi dan masyarakat, sama pentingnya bagi organisasi destinasi untuk memainkan peran sebagai aktivis/pegiat yang sentral dalam melindungi esensi dan masa depan destinasi yang positif – norma sosial destinasi, nilai-nilai budayanya, lingkungan alaminya, dan lingkungannya, dan cara hidup yang mapan.

Secara aktif menyeimbangkan perkembangan ekonomi pengunjung, dengan strategi bermitra pada keberlanjutan sosial-budaya, pelestarian lingkungan, dan mengutamakan kualitas hidup bagi penduduk lokal, akan menjadi tempat komunitas yang semakin penting dalam melaksanakan peran untuk organisasi destinasi  saat ini dan di masa mendatang.

 

5. Kolaborator dalam Network Aliansi Strategis

 

Jaringan strategis yang melibatkan hubungan lateral dan vertikal dengan para pemangku kepentingan di dalam dan di luar perusahaan. Sebagai organisasi manajemen destinasi, jaringan strategis adalah kemampuan untuk sharing informasi, dukungan, dan sumber daya dari satu sektor jaringan untuk mendukung pencapaian hasil kinerja yang unggul di sektor pariwisata.

Sangat penting bahwa organisasi destinasi di masa depan membangun banyak jaringan, banyak di antaranya harus berada di luar pengelompokan bisnis pariwisata konvensional yang telah lama menjadi ciri khas industri ini. Misalnya, menjalin hubungan strategis dengan lembaga ekonomi, universitas, start up, dan sektor bisnis lainnya. Dan, yang penting, menciptakan aliansi strategis dengan konvensi dan pelanggan perjalanan bisnis.

Pelanggan perusahaan dan tour & travel akan lebih tertarik untuk membangun hubungan strategis jangka panjang daripada hubungan transaksional dengan destinasi yang menjadi tujuan wisata. Kerjasama B2B ini memerlukan kontrak MoU yang mengatur kesepakatan bisnis bersama sebagai atribut utamanya. Pergeseran (shifting) ini memerlukan strategi keterlibatan yang berbeda dari organisasi destinasi dengan stakeholder pariwisata.

Organisasi destinasi harus secara proaktif membangun jaringan dan aliansi strategis untuk membantu mewujudkan hasil yang diinginkan dan menjadi ekspektasi pelanggan wisatawan. Komitmen pada tahap ini, akan mengubah keterlibatan (engagement) menjadi lebih kompetitif yang akan mengantarkan kesuksesan organisasi, sehingga berdampak mendorong peningkatan market share.

Co-creation adalah model yang muncul di berbagai sektor, baik di antara organisasi dan pelanggan, perusahaan dan wirausaha, atau pemangku kepentingan yang bekerja sama secara lebih efektif untuk memecahkan tantangan utama.  Hal Ini berupa strategi bisnis yang berfokus pada pengalaman pelanggan dan hubungan interaktif. Co-creation memungkinkan dan mendorong keterlibatan yang lebih aktif dari pelanggan untuk menciptakan pengalaman yang kaya nilai.

Jika strategi penciptaan bersama berhasil dicapai, hal ini akan lebih memposisikan organisasi manajemen destinasi dan komunitas utamanya untuk mempengaruhi pembangunan ekonomi dan sosial sambil terus menerus memperkuat nilai dan kontribusi sektor pariwisata dan cagar budaya. Keterlibatan ini akan memungkinkan peluang untuk organisasi manajemen destinasi lebih mendengarkan dan memahami pendapat dan aspirasi penduduk lokal terkait pengelolaan kunjungan wisatawan, sehingga selaras dengan kondisi dan karakteristik masyarakat.

Dengan mencari kemitraan dan kolaborasi dengan eksternal, perusahaan/organisasi manajemen destinasi dapat berinovasi lebih cepat, bahkan menciptakan solusi untuk masalah yang mungkin belum menjadi isu umum industri pariwisata. Kolaborasi bukan lagi hanya strategi -ini adalah kunci keberhasilan dan daya saing bisnis jangka panjang. Perusahaan/organisasi yang menyadarinya lebih cepat kemudian melakukan perubahan transformasional, akan memenangkan persaingan dan berhasil dalam ekonomi global baru.

Simak bacaan terkait lainnya:

25 Strategi Manajemen Destinasi Wisata Masa Depan Berkelas Dunia

25 Tren Transformasional yang Mempengaruhi Destinasi Wisata di Masa Depan

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

96 − 91 =