Bagaimana Mewujudkan Pengalaman Liburan Hebat dengan Kantong Hemat

Indeks daya saing Indonesia meningkat tajam menduduki peringkat ke- 42 di tahun 2017. Namun tentunya masih ada pekerjaan rumah yang besar dalam perbaikan sektor pariwisata, khususnya dalam hal harga yang kompetitif, apakah berdampak mendorong biaya liburan yang murah bagi wisatawan? kekayaan SDA dan lokasi situs warisan budayanya apakah sudah dikelola dengan manajemen destinasi berkelanjutan, dan kualitas wisatawan mancanegara yang didatangkan yang mendorong pendapatan devisa.

Lompatan Indeks daya saing pariwisata disebabkan oleh pertumbuhan cepat dari kedatangan turis asing ke Indonesia, prioritas nasional untuk industri pariwisata dan investasi infrastruktur. Untuk mengukur efektivitas manajemen pariwisata ini, tidak cukup sekedar melihat growth, namun juga dampak (impact) atas 3S yakni spread (pengeluaran), sustainability (pertumbuhan), dan size (ukuran).

Dalam ulasan blog kali ini, akan di bahas bagaimana mewujudkan liburan yang murah di indonesia sebagai salah satu indikator dampak dari daya saing pariwisata.

Daya saing pariwisata, idealnya ditandai dengan tingginya dampak berupa spread (pengeluaran) yang justru mendorong terhadap semakin murahnya biaya liburan wisata di Indonesia. Hal ini penting mengingat sebagian besar wisatawan umumnya berbujet rendah. Misalnya Wisatawan yang datang ke Jogja baik domestik maupun mancanegara, nyaris tiga perempat pelancong atau 72% ke DIY berpenghasilan kurang dari Rp10 juta.

Tahun 2017 rata-rata pengeluaran wisatawan per hari pun hanya Rp1,7 juta. Sebagian besar pengeluaran dihabiskan untuk transportasi. Wisatawan mancanegara pengeluarannya sekitar US$1.101 sedangkan wisatawan Nusantara sekitar Rp376.250. Secara nasional, Rerata belanja wisman [saat berkunjung ke Indonesia adalah] sekitar US$1.100/perjalanan, sedangkan pengeluaran belanja wisnus Rp700.000—Rp800.000/perjalanan. Wisnus lebih menyukai wisata kuliner dan destinasi kekinian yang sedang terkenal di media sosial.

Menurut laporan Kementerian Pariwisata, turis asing di Indonesia yang paling banyak keluar duit adalah para pelancong dari Timur Tengah. Rata-rata mereka membelanjakan US$1.918 per orang per kunjungan, disusul turis dari Eropa dan Tiongkok.

Beberapa jenis keluhan terhadap manajemen destinasi yang dilangsir dari berbagai sumber antara lain:

  1. Transparansi harga produk. Misalnya warung-warung di destinasi wisata agar membuat daftar menu yang menampilkan harga makanan atau biaya fasilitas lain agar wisatawan tidak merasa tertipu.
  2. Toilet di destinasi wisata yang ‘layak’. Akses yang mudah. Suatu destinasi wisata pasti akan semakin banyak didatangi para wisatawan jika akses menuju lokasi semakin mudah. Selain mudah, aksesnya pun harus dibuat nyaman dan harganya murah.
  3. Tempat parkir resmi dan karcis sesuai edaran pemerintah. Wisatawan memerlukan harga tiket parkir yang wajar dan sesuai dengan ketetapan pemerintah.
  4. Keramahtamahan (hospitalities). Banyak pengelola destinasi yang staf pelayanannya kurang ramah terhadap wisatawan.

Liburan hebat, kantong hemat

Berikut adalah 19 tips agar liburan menghasilkan pengalaman hebat namun kantong tetap hemat

  1. Lakukan riset dan minta pendapat yang sudah berpengalaman
  2. Membawa uang dengan jumlah yang cukup saat liburan
  3. Membuat perencanaan biaya liburan yang rinci
  4. Pergi pada saat low season, berlibur bukan di musim liburan
  5. Gunakan pilihan menginap di tempat alternatif atau rumah Teman atau Saudara, bukan hotel berbintang
  6. Manfaatkan layanan gratis liburan,
  7. Hindari berbelanja di tourist spot
  8. Carilah teman perjalanan, berlibur secara rombongan dan pilih masyarakat lokal sebagai pemandu
  9. Cek tiket pesawat secara berkala, mencari perbandingan harga untuk pesan tiket pesawat dan booking jauh-jauh hari
  10. Gunakan website booking online yang loyal
  11. Gunakan jalur darat jika memungkinkan dan jadilah petualang ketika berlibur
  12. Mengakali transportasi, gunakan angkutan umum atau sewa mobil agar budget lebih murah
  13. Makan di tempat makan lokal
  14. Kunjungi tempat wisata yang Baru Launching, teliti memilih lokasi untuk liburan dan Paket Wisata
  15. Manfaatkan wifi
  16. Lakukan perjalanan malam
  17. Bawalah bekal makanan saat liburan
  18. Beli oleh-oleh/souvenir dengan bijak, berburu langsung ke tempat pembuatan cendramata
  19. Ketika berlibur usahakan berbicara dalam bahasa lokal

Destinasi berkelanjutan

Guna mencapai target di ranking 30 dunia tahun depan, manajemen pariwisata harus memperbaiki dampak pada sustainability (pertumbuhan), karena pilar environmental sustainability saat ini masih rendah di peringkat 131 dari 134 negara. Pariwisata berkelanjutan secara prinsip  adalah “semakin dilestarikan, semakin mensejahterakan”.

Dampak yang ditimbulkan pariwisata dalam hal size (ukuran) di tahun 2017, moda transportasi udara telah berkontribusi melayani wisatawan dengan penerbangan Wisman mencapai 76,92% dan peredaran Wisnus mencapai 23,07%, dengan total penerbangan 9,78 juta perjalanan. Adapun devisa dari sektor pariwisata mencapai Rp200 triliun di tahun 2017, dan ditargetkan meningkat menjadi Rp223 triliun pada 2018. Jumlah tenaga kerja di sektor pariwisata akan mencapai 12,6 juta orang atau naik 5% dari posisi 12 juta orang.

Indonesia adalah negara yang memiliki kekayaaan melimpah, baik dari segi budaya, sumber daya alam, maupun budaya dan bahasa. Indonesia memiliki hampir semuanya, dalam aspek kekayaan alam. Hutan, gunung, sungai, pantai berpasir yang indah, gua, tebing, bukit, rawa, sawah, danau tersebar di seluruh daerah.

Berbagai relief alam tersebut memiliki keindahan dan keunikan yang memukau. Beberapa tempat sudah banyak dikunjungi wisatawan dan sudah dikelola secara profesional. Keindahan alam Indonesia tak hanya mengundang wisatawan dalam negeri tetapi juga mancanegara. Bali adalah propinsi yang sudah terkenal lebih dulu di mata dunia, dibandingkan propinsi lainnya; baik karena keindahan alamnya maupun budaya.

Selain Bali, propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta juga sudah lama menjadi destinasi wajib bagi wisatawan yang berada di Indonesia. Namun saat ini daerah-daerah lain pun turut berlomba-lomba untuk menampilkan sisi cantiknya agar dapat memikat wisatawan yang datang. Bangkitnya daerah lain untuk mengembangkan wisatanya karena juga ada dukungan dari pemerintah. Saat ini pemerintah serius untuk mengembangkan manajemen wisata di daerah-daerah lain.

Dengan adanya program “Wonderful Indonesia”, perbaikan infrastruktur, dan berbagai program lainnya diharapkan ekonomi Indonesia tumbuh berkat sumbangsih dari dunia pariwisata. Kini sebut saja Pulau Komodo, Raja Ampat di Papua, Banyuwangi, Toraja dan lain-lain. Nama-nama tersebut dahulu belum menjadi populer sebagai destinasi wisata, kini banyak wisatawan mengetahui dan tertarik untuk mengunjunginya. Destinasi wisata di Indonesia semakin beragam.

Tak hanya wisata di dalam negeri, destinasi-destinasi wisata di luar negeri juga menjadi favorit orang Indonesia. Destinasi-destinasi populer di luar negeri bagi wisatawan Indonesia antara lain Singapura, Thailand, Malaysia, Jepang, Hong Kong, Tiongkok, Korea, Australia, bahkan Eropa dan Amerika. Kemudahan dalam mendapatkan visa, murahnya beberapa tujuan penerbangan, serta promosi yang dilakukan negara-negara tersebut, telah menjadi daya tarik bagi wisatawan RI.

Zaman sekarang, travelling tak hanya melulu dilakukan keluarga Indonesia saat liburan sekolah. Banyak sekali perusahaan, instansi pendidikan dan instansi pemerintah yang mengadakan program wisata bagi karyawan atau muridnya. Pandangan masyarakat kini tak hanya menganggap wisata sebagai acara bersenang-senang, tetapi untuk dapat menyegarkan jiwa dan pikiran, untuk belajar mengenal budaya lain, untuk menumbuhkan rasa cinta kepada alam, untuk memelihara kebersamaan dan keakraban dalam suatu perusahaan.

Manajemen wisata diperlukan saat wisatawan tersebut merupakan rombongan besar yang berasal dari luar kota, acara padat, agar mereka mendapat kepastian mengenai kelancaran acara yang direncanakan.

Minat dan kebutuhan masyarakat untuk melakukan perjalanan ke luar kota memunculkan peluang bisnis yang potensial. Bagi Anda yang menyukai dunia wisata dan tertarik mengurus manajemen wisata, bidang ini masih terbuka dan dapat dikembangkan. Industri pariwisata adalah industri jasa yang berhubungan dengan banyak bidang sekaligus.

Dengan membuka jasa travel agent atau tour organizer, maka Anda siap untuk bekerja sama dan menjalin hubungan bisnis dengan pelaku-pelaku bisnis lainnya. Anda juga siap untuk melayani rombongan besar. Menjadi seorang pengusaha tour organizer membutuhkan beberapa kemampuan, seperti koordinasi, komunikasi yang baik, inisiatif, dan kemampuan leadership yang baik.

Para pelaku usaha bidang pariwisata harus memiliki manajemen wisata yang mumpuni agar bisa mendapatkan penghasilan sekaligus memberikan layanan maksimal kepada para tamu. Pelaku usaha pariwisata di tanah air bermunculkan. Jenis layanan yang diberikan bervariasi. Berdasarkan jenis layanan yang diberikan oleh pelaku bisnis, maka pelaku bisnis wisata dapat dikelompokkan menjadi beberapa macam, yaitu :

  1. Pelaku bisnis yang khusus menjual tiket pesawat, kereta, kapal dan voucher hotel
  2. Pelaku bisnis yang fokus menyewakan mobil atau bus kepada turis
  3. Pemilik catering. Jasa catering kadang dibutuhkan apabila dalam suatu perjalanan wisata, turis memiliki jadwal yang padat, sehingga makan siang dilakukan di dalam bus. Bisa juga makan siang dilakukan karena alasan lain, yaitu jarak dari satu lokasi ke lokasi wisata lain yang berjauhan, dan tidak melewati restoran yang berkapasitas besar.
  4. Pemilik restoran. Rombongan besar biasanya perlu untuk memesan tempat jika akan makan di restoran, sebelum tiba di lokasi. Ada restoran-restoran tertentu yang menjadi langganan turis karena lokasinya yang strategis, tempat memadai maupun menunya yang enak.
  5. Pemilik penginapan. Penginapan ini bervariasi. Mulai dari hotel besar yang dimiliki korporasi, hingga homestay milik perorangan dengan kapasitas terbatas.
  6. Pemilik atau pengelola obyek wisata.
  7. Penyedia jasa outbond.
  8. Fotografer atau videografer yang akan mendokumentasikan acara selama wisatawan berlibur. Momen-momen penting sayang jika tidak diabadikan. Liburan bersama rekan-rekan atau keluarga menjadi penting untuk didokumentasikan, bukan hanya karena keindahan obyek wisata yang dikunjungi, namun keceriaan dan kebersamaan dalam suatu kelompok wisatawan.
  9. Pemandu wisata. Pelaku bisnis yang menjadi pemandu wisata artinya, pemandu ini bekerja lepas dan tidak terikat oleh agen tour tertentu.
  10. Tour organizer. Tour organizer inilah yang menjadi sentral dari para pelaku bisnis wisata, karena tour organizer bertugas mengkoordinasi kegiatan/agenda perjalanan wisata dengan berkomunikasi dengan pihak penginapan, restoran atau catering, pengelola obyek wisata, jasa transportasi, dan sebagainya.
  11. Jenis pelaku bisnis wisata yang terakhir adalah mereka yang merangkap jenis usaha tertentu. Bisa 2 bahkan lebih. Contohnya adalah pemilik guesthouse yang menyediakan mobilnya untuk disewa turis; ada pula jasa rental mobil yang merangkap sebagai tour organizer; atau pemilik penginapan yang merangkap sebagai tour organizer.

Adanya berbagai macam profesi di industri pariwisata menunjukkan bahwa pariwisata adalah dunia usaha yang kompleks. Penyedia barang/jasa yang satu berhubungan dengan penyedia barang/jasa lainnya. Wisatawan datang tak sekedar datang ke obyek wisata, tidur di hotel, lalu pulang. Berbagai hal bisa dilakukan seperti berbelanja oleh-oleh, melakukan olahraga atau kesenian budaya khas daerah tersebut, bahkan kadang suatu perusahaan atau instansi yang melakukan rapat, gathering, meeting di luar kota.

Para pelaku bisnis perlu menyadari beragamnya tujuan orang bepergian ke luar kota sehingga pelaku bisinis wisata harus jeli dan sigap dalam memfasilitasi kebutuhan calon konsumen. Para wisatawan dari luar daerah, bahkan luar negeri, akan terbantu jika memanfaatkan jasa tour organizer. Tour organizer yang baik tentu menggunakan manajemen wisata yang sebaiknya dibuat dengan pola dan prosedur.

Peningkatan skill dan pengetahuan oleh para pelaku bisnis wisata, akan meningkatkan kualitas layanan terhadap para tamu. Dalam manajemen wisata, para pelaku bisnis wisata hendaknya mempertahankan sikap ramah, informatif, dan komunikatif kepada para tamu. Penjelasan dan sikap komunikatif dengan tamu atau calon tamu perlu dilakukan, agar tak terjadi kesalahpahaman. Calon tamu pun mendapat informasi lengkap sehingga bisa mempersiapkan liburan dengan baik.

Keindahan obyek wisata menjadi kurang menarik apabila agenda acara dan layanan dari pelaku bisnis wisata tidak memuaskan. Apabila para tamu puas, mereka akan bercerita kepada orang lain atau menggunakan jasa pelaku bisnis tersebut di lain kesempatan. Hal ini akan menguntungkan juga bagi para pelaku bisnis wisata, lebih tepatnya mendapat kepercayaan, image baik, dan pelanggan. Apabila pelanggan berasal dari instansi atau perusahaan, ini tentu akan menguntungkan karena perusahaan dan instansi sering kali mengadakan program wisata atau gathering secara berkala.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

7 + 1 =