Dampak Pariwisata: Paradoks Pertumbuhan Berkelanjutan

Places to Visit in Surabaya

Baru-baru ini kita menyaksikan, bagaimana kota Surabaya menorehkan prestasinya dengan memperoleh Guangzhou International Award 2018 sebagai kota terpopuler di dunia.

Award dua tahunan tersebut, ditujukan untuk mengapresiasi pembangunan dan pengembangan yang dilakukan sebuah destinasi kota.

Surabaya berhasil mengalahkan Sidney, Milan, New York dan kota populer lainnya, karena dinilai berhasil dalam pengelolaan 3R (Reduce, Reuse, Recycle), mensosialisasikan daur ulang dari tingkat rumah tangga, hingga mendorong warga untuk berpartisipasi melakukan urban farming.

Kota Surabaya juga menjadi kota terbaik di bidang pariwisata versi Yokatta Wonderful Indonesia Tourism Awards 2018. Kota Surabaya dinilai memiliki komitmen, performansi, inovasi, kreasi dan leadership dalam membangun pariwisata daerah..

Ini adalah bukti, kapabilitas daerah dalam pengelolaan dampak lingkungan dapat sekaligus meningkatkan daya tarik dan daya saing pengembangan pariwisatanya.

Bicara masalah dampak wisata, barangkali kita pernah memiliki pemikiran seperti ini sebelumnya…

  • “Apa dampak pariwisata terhadap perkembangan bisnis wisata kita?”
  • “Apa dampak pariwisata terhadap kesejahteraan masyarakat disekitar destinasi wisata?”
  • “Apa dampak pariwisata terhadap kondisi lingkungan di sekitar destinasi wisata?”

Atau mungkin jika Anda sudah berhasil menganalisa dan mengukur dampak pariwisata terhadap perkembangan bisnis wisata, kondisi sosial ekonomi masyarakat, dan dampak terhadap lingkungan…so what?

Mungkin pernah yang terlintas dalam pemikiran kita…

  • “Meskipun kita sudah berusaha menjaring dan meningkatkan pengunjung menjadi pelanggan bisnis wisata kita setiap tahunnya, tapi penguasaan terhadap market share dalam industri pariwisata beransur-angsur menurun?”
  • “Meskipun kunjungan wisman dan wisnus meningkat setiap tahunnya ke destinasi wisata, pengeluaran dan lama tinggalpun berkorelasi tinggi, tapi kok tingkat kesejahteraan masyarakat di sekitar destinasi masih relatif jauh dibawah peringkat daerah lain?”
  • “Meskipun semakin variatif dan intensif aktivitas kunjungan wisata di destinasi, berdampak semakin menggunungnya sampah dan limbah yang dihasilkan. Semakin tinggi pula konsumsi terhadap air dan energi di lingkungan, selain pembukaan lahan untuk bisnis wisata. Tapi belum banyak terlihat ada rencana bahkan pelaksanaan untuk pengendalian dampak pariwisata terhadap lingkungan dengan pendekatan yang berkelanjutan di destinasi wisata?”

Saya yakin pertanyaan seperti di atas pernah terpikir oleh kita, atau paling tidak sempat terlintas ketika mengamati dinamika destinasi wisata di sekitar kita, betul?

Yang masih muncul pertanyaan dalam pemikiran kita lagi adalah…

  • “Bagaimana dampak terhadap bisnis wisata kedepan, jika penguasaan market share kita terus semakin menurun, di sisi lain justru penguasaan market share oleh kompetitor bisnis yang dikuasai asing meningkat dan semakin mendominasi, serta perlindungan terhadap bisnis lokal semakin melemah?
  • “Bagaimana dampaknya terhadap bisnis wisata kedepan, jika kondisi masyarakat sekitar destinasi wisata tingkat kesenjangan ekonomi sosialnya masih tinggi?
  • “Bagaimana dampak terhadap bisnis wisata kedepan, jika penanganan sampah tidak terkendali serta keterediaan air dan energi di destinasi yang semakin terbatas?

Namun, jika kita sekarang benar-benar mantap memilih bisnis wisata sebagai way of live kita, coba kita uji visi dalam dalam pemikiran kita…

“Bisnis wisata itu bukan tujuan akhir, melainkan proses untuk kita menghasilkan pendapatan dan kekayaan, yang dengan kekayaan tersebut memampukan kita berbuat lebih banyak untuk kebaikan dalam keberlanjutan wisata, memajukan pariwisata dengan melestarikan, mensejahterakan masyarakat dengan menata-kelola lingkungan yang lebih berkelanjutan…”

Apakah setuju?..

Sebelum lebih jauh, kita harus menganalisa dulu apa saja tren dan dampak pariwisata. Kemudian mengenali lebih jauh, bagaimana mengelola dampak yang mempengaruhi bisnis wisata kita secara langsung atau jangka panjang, sehingga dapat diantisipasi lebih berkelanjutan dimasa mendatang.

Untuk itu kita simak dulu tren perkembangan pariwisata yang telah banyak mengalami revolusi

Sejarah Pariwisata

Revolusi memang tak bisa di copy-paste. Seperti halnya revolusi pariwisata dengan dampak yang dihasilkannya.

Lihat saja sejarah perkembangan pariwisata sejak sebelum jaman modern (sebelum Tahun 1920).

Aktivitas perjalanan bangsa primitif dari satu tempat ke tempat lain bertujuan untuk kelangsungan hidup. Dampaknya adalah kemampuan survival bertahan hidup melalui nomadic.

Pariwisata pada jaman dunia modern, yang ditandai dengan pemakaian angkutan mobil untuk kepentingan perjalanan pribadi sesudah perang dunia I. Dampaknya melahirkan perdagangan, aktivitas wisata domestik dan munculnya industri akomodasi.

Pariwisata pada jaman perkembangan sarana angkutan di abad XX, yang ditandai dengan berkembangnya sarana angkutan motorisasi dan pesawat.

Meningkatnya pendapatan per kapita penduduk terutama di negara maju dan tingginya pendidikan masyarakat, menumbuhkan rasa ingin tahu dan pengetahuan terhadap perkembangan negara–negara luar.

Dampaknya melahirkan pariwisata internasional sehinga memunculkan agen perjalanan.

Pariwisata jaman kekinian di era revolusi digital. Ditandai dengan menguatnya digital lifestyle atau gaya hidup wisatawan yang dimudahkan oleh teknologi digital.

Perubahan perilaku berwisata yang disebabkan oleh ketergantungan terhadap gadget terutama smarphone. Mendorong dalam memfasilitasi pengunjungnya dengan layanan yang harus digital friendly.

Dampaknya memicu perubahan perilaku dan kebutuhan traveller berupa experience atau Esteem Economy dibandingkan material goods. Sehingga hal ini memicu munculnya paradox marketing strategy dalam pariwisata. Merebaknya destinasi digital dan dampak pariwisata yang kian kompleks.

Bung Karno pernah mengatakan, tak ada model revolusi yang ”ready-for-use”. Masyarakat bisa diubah dengan satu desain revolusi, tapi tak akan bisa sepenuhnya terpenuhi kebutuhannya. Sejarah dan demografi yang berbeda-beda tak mudah diutak-atik, bahkan dicopy- pastekan dampaknya.

Parameter Key Performance Pariwisata

Hasil tidak akan pernah menghianati proses sebelumnya. Dampak akan selalu menjadi konsekwensi dari hasil. Untuk memahami dan mengukur dampak, tentunya kita harus identifikasi capaian proses dan hasilnya.

Dalam konteks inilah biasanya muncul paradoks. Satu sisi pemasaran untuk perluasan pasar dalam rangka peningkatan kunjungan dilakukan, sisi lain pengunjung ke destinasi wisata di batasi karena pertimbangan kapasitas dan kapabilitas serta atas dasar kajian dampak lingkungannya.

Adapun parameter yang menjadi indikator kinerja kunci ‘proses dan hasil’ yang biasa digunakan oleh perusahaan perjalanan dan pariwisata, antara lain:

  • Net Profit / Employees : Laba Bersih dibagi dengan total pegawai yang bekerja atau besaran laba bersih perusahaan yang diperoleh oleh setiap pegawai.
  • Increasing number of foreign tourist arrival : indikator yang digunakan untuk menghitung pertumbuhan jumlah kedatangan wisatawan mancanegara yang berkunjung ke kawasan wisata atau menginap di hotel. Peningkatan tersebut menunjukkan kemampuan pemasaran perusahaan dalam mendatangkan wisatawan mancanegara.
  • Number of day visitors : Berapa jumlah hari yang dihabiskan oleh turis untuk berwisata.
  • Length of stay : Berapa lama turis menginap di satu hotel.
  • Staying visitor spend per head per day: Berapa banyak uang yang dibelanjakan oleh setiap turis perhari.
  • Improvement with travel agencies : Peningkatan kerjasama sebagai penyedia akomodasi dengan agensi travel untuk program-program tur.
  • Value of online booking : Peningkatan jumlah tamu melalui aplikasi reservasi hotel online.
  • Occupancy rate : Tingkat isian kamar dibanding dengan jumlah kamar tersedia selama periode tertentu
  • F&B, Spa & other supporting facilities : peningkatan kualitas F&B, spa dan fasilitas pendukung lainnya yang dapat menjadi nilai tambah, daya tarik dan sumber pendapatan lainnya bagi hotel.
  • MICE : peningkatan fungsi hotel bukan hanya sebagai akomodasi melainkan juga dapat sebagai jasa penyedia Meeting, Incentive, Convention and Exhibition (MICE) yang dapat menjadi nilai tambah, daya tarik dan sumber pendapatan lainnya bagi hotel.
  • Integrated travel activity & travel guide : Penerapan travel guide dan penyediaan aktivitas travel yang terintegrasi antara hotel, situs wisata dan perusahaan travel.
  • Improvement in local business : Pariwisata diharapkan juga dapat mampu memberikan peningkatan pada bisnis lokal (UMKM) dari masyarakat sekitar situs wisata untuk dapat menggerakan roda perekonomian setempat.
  • Point of interest creation : Penciptaan sentral wisata baru yang menyediakan hiburan baru dengan daya tarik alam dan belanja yang terintegrasi.
  • Identical souvenir & culinary : Identifikasi oleh-oleh khas dan kuliner khas menjadi pendukung atas situs wisata yang apabila dikelola dengan baik dapat memberikan nilai tambah dan sumber pendapatan lainnya bagi hotel dan pengelola wisata.
  • Progress pengembangan produk : Realisasi jumlah inovasi dan pengembangan produk dan paket pada periode tertentu.
  • Realisasi implementasi digitalisasi proses : Realisasi program-program kerja dalam rangka digitalisasi proses antara lain dibidang digital marketing, sistem SDM, sistem pelayanan, dan procurement
  • Realisasi implementasi program kerjasama : Realisasi program-program kerja kerjasama untuk peningkatan destinasi wisata & even, peningkatan aksesibilitas & infrastruktur, pemasaran & manajemen dan pemberdayaan masyarakat & pelestarian lingkungan
  • Customer Satisfaction Index : Mengukur tingkat kepuasan pelanggan yang diukur melalui survei kepuasan pelanggan.
  • Revenues in non-core product : indikator yang digunakan perusahaan untuk melihat pendapatan diluar produk utamanya akan berarti bahwa perusahaan bisa dengan baik mengembangkan produk — produk lainnya, yang bisa menghasilkan pertumbuhan di bidang — bidang tersebut.
  • Jumlah Penumpang Penerbangan Domestik: Indikator yang menunjukkan jumlah penumpang rute penerbangan domestik
  •  Jumlah Penumpang Penerbangan Internasional: Indikator yang menunjukkan jumlah penumpang rute penerbangan Internasional (inbond & outbond)
  • Jumlah trip perjalanan armada: Indikator yang menunjukkan jumlah trip angkutan armada yang digunakan membawa wisatawan
  • Jumlah wisatawan yang dipandu: Indikator yang menunjukkan jumlah wisatawan yang menggunakan jasa pemandu wisata.
  • dan lain-lain, silahkan di tambahkan..

Analisis Dampak

Masalahnya, dampak pariwisata belum sepenuhnya terukur secara komprehensif, masih paradoks dengan masih adanya indikator fundamental yang belum banyak terungkap sehingga hasil pengukurannya masih multi tafsir.

Pendekatan analisa dampak pariwisata yang biasa dilakukan antara lain:

Analisis Dampak Ekonomi – untuk mengukur dampak berupa hasil pariwisata secara langsung langsung dan dampak dari pembelanjaan pengunjung pada suatu destinasi.
Dampak ekonomi dapat diukur dalam hal manfaat moneter dan perkembangan ekonomi masyarakat secara keseluruhan.

Analisis Dampak Sosial – dampak yang diukur melalui sistem survei dan analisis data sekunder untuk mengukur jumlah pekerjaan yang diciptakan, perubahan dalam pendapatan rumah tangga, sikap penduduk terhadap pariwisata, dan juga metrik lainnya.

Dampak sosial & budaya menandakan dampak yang ditimbulkannya dalam hal perubahan sosial dalam kehidupan masyarakat setempat, peningkatan infrastruktur, perubahan gaya hidup, dll.

Analisis Dampak Lingkungan – dampak yang diukur berdasarkan hasil pemantauan konflik satwa liar dan manusia, pengukuran metrik pengelolaan lahan, dan berbagai alat manajemen lingkungan lainnya. Dampak lingkungan mengacu pada dampak pariwisata terhadap alam dan sekitarnya.

Dampak Positif dan Negatif

Bagaimana pengaruh Industri Pariwisata terhadap suatu negara? Dampak positif dan negatif industri Pariwisata yang diklasifikasikan ke dalam dampak sosial & budaya, dampak ekonomi serta dampak lingkungan?

Dampak Sosial dan Budaya

Pariwisata memiliki efek yang berbeda pada aspek sosial dan budaya kehidupan masyarakat di destinasi wisata tergantung pada karakteristik daerahnya. Efeknya bisa positif atau negatif, antara lain:

Dampak positif:

Untuk meningkatkan pariwisata, modal sangat besar diinvestasikan untuk melestarikan warisan budaya lokal, untuk meningkatkan infrastruktur, untuk menyediakan amenitas yang lebih baik, yang pada gilirannya menciptakan pendidikan yang lebih baik, fasilitas wisata yang lebih baik, perkembangan acara-acara sosial yang intensif sehingga memperbaiki taraf hidup masyarakat lokal.

Mereka berinteraksi dengan para wisatawan, berbaur dengan orang-orang dari berbagai latar belakang yang menciptakan budaya kosmopolitan di wilayah tersebut. Karena permintaan akan layanan yang lebih baik, beragam peluang kerja diciptakan di kawasan ini dan oleh karena itu orang tidak merasa perlu bermigrasi ke kota lain untuk mencari nafkah.

Dampak negatif:

Karena lalu lintas yang padat di wilayah wisata, infrastruktur mungkin tidak mampu mengatasi peningkatan kesibukan aktivitas wisata, sehingga menyebabkan kepadatan penduduk yang berlebihan, sampah dan limbah yang meningkat, konsumsi listrik dan air yang tinggi, debit air yang menurun, sanitasi yang buruk yang selanjutnya sehingga dapat menyebabkan munculnya penyakit yang mengancam wisatawan serta masyarakat setempat.

Intrusi terhadap orang luar di area tersebut dapat mengganggu budaya lokal dan menciptakan keresahan di antara masyarakat. Penduduk setempat dapat mengikuti gaya hidup wisatawan melalui efek demonstrasi dan hasilnya bisa kehilangan adat istiadat dan tradisi asli yang otentik.

Beberapa orang melakukan aktivitas kriminalitas untuk mengambil harta benda dari wisatawan, sehingga terjadi peningkatan kejahatan dan aktivitas anti-sosial dan muncul gradasi nilai-nilai moral dan agama.

Dampak Lingkungan

Pariwisata memiliki efek terhadap lingkungan atmosfer atau kondisi eksistensi. Dampak pariwisata terhadap lingkungan secara positif dan negatif adalah:

Dampak positif:

Untuk meningkatkan daya tarik khusus pariwisata dilakukan penataan keindahan lingkungan sekitar, penanaman pohon dan bunga secara teratur dan lansekap dilakukan untuk meningkatkan estetika destinasi.

Investasi besar dilakukan untuk meningkatkan fasilitas di daerah seperti taman, jalan, pagar, sanitasi yang layak, air minum umum, dll. Penekanan lebih diberikan untuk melestarikan monumen, struktur warisan untuk menarik lebih banyak wisatawan.

Dampak negatif:

Setiap jenis pengembangan menghasilkan gangguan pada alam. Pengembangan destinasi berlebihan akan mengorbankan alam. Bisa berupa kerusakan pada flora dan fauna alami. Penduduk setempat harus mengungsi untuk pengembangan destinasi wisata.

Seiring meningkatnya pengunjung di destinasi, akan lebih banyak sumber daya alam diperlukan sehingga mengarah pada menipisnya sumber daya alam setempat.

Masalah pembuangan limbah dan sampah yang muncul, tanpa langkah yang tepat untuk menangani masalah ini akan dapat memperburuk situasi.

Karena semakin banyak kunjungan, lebih banyak dibutuhkan sarana transportasi, lebih banyak kebisingan, pembuangan sampah yang tidak benar, polusi meningkat di daerah tersebut dan mengganggu keseimbangan ekologi di kawasan destinasi wisata.

Dampak Ekonomi

Perjalanan & Wisata adalah kegiatan ekonomi penting di sebagian besar negara di seluruh dunia. Serta dampak ekonomi langsungnya, industri ini memiliki dampak langsung dan tidak langsung dengan induksi yang signifikan.

Metodologi Akuntansi Satelit Pariwisata yang ditetapkan Badan Statistik Dunia (TSA: RMF 2008) , seperti halnya BPS hanya mengkuantifikasi kontribusi langsung dari Perjalanan & Wisata.

WTTC melalui penelitian tahunannya mengakui bahwa dari total kontribusi Perjalanan & Pariwisata menghasilkan dampak tidak langsung yang induksinya jauh lebih besar, seperti gambar di bawah ini:

Industri pariwisata telah memberi kontribusi pada pertumbuhan ekonomi suatu negara melalui berbagai faktor seperti industrialisasi, pendidikan, teknologi digital, jumlah SDM profesional yang lebih banyak, perluasan pasar luar negeri, kebijakan bebas visa, iklim investasi sektor wisata yang kondusif, advertising serta pemasaran strategis yang lebih baik.

Faktor-faktor di atas secara kolektif meningkatkan cadangan ekonomi daerah sehingga menyebabkan peningkatan pendapatan yang lebih untuk APBN setiap tahun.

Pariwisata juga dapat menguntungkan ekonomi di tingkat regional dan lokal, karena pendapatan mengalir datang ke daerah perkotaan dan pedesaan.

Pada gilirannya merangsang perusahaan bisnis baru (startup), pasar yang lebih besar dan mempromosikan citra yang lebih positif dari destinasis tersebut.

Pendapatan yang dihasilkan membantu neraca pembayaran nasional, meningkatkan devisa, serta dari pajak tidak langsung atas barang dan jasa yang dibeli oleh para wisatawan.

Berdasarkan Travel and Tourism Competitiveness Index (TTCI) World Economic Forum (WEF), Indonesia memperoleh peringkat 42 pada tahun 2017. Pada tahun 2019, ditargetkan Indonesia duduk di peringkat ke-30 dunia.

Upaya untuk mencapainya, salah satu pendekatan yang dilakukan Kemenpar adalah peningkatan penilaian untuk pilar keberlanjutan lingkungan (environmental sustainability) yang saat ini masih berada pada peringkat 131 dari 136 negara.

Sustainable tourism atau pariwisata berkelanjutan sudah menjadi isu global, dan Indonesia sangat peduli terhadap pengembangan pariwisata yang ramah lingkungan.

Untuk itu diterbitkan Permen Nomor 14 Tahun 2016 tentang Pedoman Destinasi Pariwisata Berkelanjutan menjadi acuan bagi pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan lainnya dalam pembangunan destinasi pariwisata berkelanjutan.

Pariwisata, sektor yang telah ditetapkan sebagai penghasil utama devisa negara, harus dijaga agar berkelanjutan dan lestari.

Terobosan pengelolaan Dampak Pariwisata

Dalam Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York, Amerika Serikat pada 25-27 September 2015, menyepakati adopsi Sustainable Development Goals (SDG) untuk periode 2015-2030.

Dokumen itu terdiri dari 17 tujuan (goals) terbagi menjadi 169 target dan sekitar 300 indikator. Ada 5 pondasi dari SDG yaitu manusia, planet, kesejahteraan, perdamaian, dan kemitraan.

 

Agenda pembangunan yang baru ini berlaku untuk semua negara, mempromosikan masyarakat yang damai dan inklusif, menciptakan lapangan pekerjaan yang lebih baik dan menghadapi tantangan lingkungan masa kini, terutama perubahan iklim.

Sebagai pelaku wisata, tentunya ada banyak potensi terobosan yang dapat diinisiasikan dalam mengelola dampak bisnis pariwisata yang dioperasikan, bersama dengan pemerintah dan stakeholder lainnya.

Terobosan dalam Dampak Sosial

Terobosan dalam upaya pengelolaan dampak sosial adalah untuk setiap organisasi pengelola bisnis Perjalanan & Pariwisata yang bekerja untuk meningkatkan SDM, komunitas utama dan masyarakat di mana bisnisnya beroperasi.

Terobosan ini mencakup berbagai manfaat yang dihasilkan berupa peningkatan taraf hidup masyarakat, aktivitas perlindungan terhadap lingkungan, pembukaan destinasi dan atraksi wisata baru, pemberdayaan masyarakat lokal untuk ikut dalam meningkatkan penyebaran manfaat adanya aktivitas wisata.

Kegiatan wisata yang membantu mengurangi kemiskinan, mendukung daya saing rantai pasokan lokal, dan peningkatan terciptanya lapangan kerja dan mempromosikan budaya dan produk lokal, serta mengkampanyekan masyarakat sadar wisata yang damai dan inklusif.

Korelasi terobosan pengelolaan dampak sosial dalam pariwisata, tercermin dalam prinsip SDG nomor 1, 2, 3, 4, 8 dan 16.

Terobosan dalam Penatalayanan Destinasi

Terobosan dalam upaya pengelolaan tata kelola destinasi adalah untuk setiap organisasi yang membantu daerah destinasi untuk berkembang dan membawa identitas unik dan otentik untuk kepentingan penduduk lokal dan wisatawan.

Terobosan dapat berupa mengelola peremajaan destinasi, mempertahankan dan mengembangkan keasliannya, menyatukan para pemangku kepentingan dalam menciptakan sesuatu atraksi dan daya taraik yang baru.

Penatalayanan destinasi wisata menunjukkan bagaimana Perjalanan & Pariwisata dapat berkontribusi pada pembangunan ekonomi, yang kemudian akan berdampak pada pengentasan kemiskinan, dengan melakukan konservasi sumber daya destinasi, pengembangan infrastruktur amenitas yang ramah lingkungan, dan penataan pemukiman penduduk yang berkelanjutan.

Korelasi terobosan pengelolaan dampak sosial dalam pariwisata, tercermin dalam prinsip SDG nomor 1, 6, 8, 9, 11, 14 dan 15.

Terobosan dalam Perubahan Iklim

Terobosan dalam upaya pengelolaan dalam mengantisipasi perubahan iklim untuk setiap organisasi Perjalanan & Pariwisata berupa kegiatan yang signifikan dan terukur untuk mengurangi skala dan dampak perubahan iklim. Berupa tindakan inovatif melalui perubahan perilaku baik wisatawan dan karyawan, serta perubahan kebijakan atau penerapan teknologi.
Terobosan dapat berupa kegiatan untuk mitigasi dampak melalui pengurangan emisi karbon dan gas rumah kaca serta mengurangi konsumsi energi dan air yang efisien; kesiapsiagaan dan rencana kontingenci tanggap darurat bencana di destinasi wisata, sampai dengan pengembangan ekosistem wisata berbasis lahan.
Korelasi terobosan relevan dengan tujuan untuk kesehatan dan kesejahteraan yang baik, energi yang terjangkau dan bersih, serta konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab. Tercermin dalam prinsip SDG nomor 13, 3, 6, 7, 12, 14 dan 15.

Terobosan dalam Investasi untuk Tenaga Kerja

Terobosan dalam upaya meningkatkan investasi untuk tenaga kerja pariwisata, adalah untuk setiap organisasi Perjalanan & Pariwisata yang menunjukkan kepemimpinan dalam komitmen meningkatkan kapasitas individu dan kelompok pekerja sektor bisnis perjalanan & pariwisata, untuk membantu perekrutan, retensi tenaga kerja, pengembangan kompetensi dan keterampilan karyawan dan komunitas utama di lingkungan bisnis wisata.

Terobosan dapat berupa kegiatan inisiatif untuk mendorong dan mengembangkan tenaga kerja pariwisata yang profesional, membina penciptaan lapangan kerja baru dan pengembangan keterampilan yang menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Hal ini tercermin dalam prinsip SDG nomor 4, 7, dan 8.

Terobosan dalam Membuat Perubahan

Terobosan dalam upaya membuat perubahan untuk organisasi Perjalanan & Pariwisata yang menghasilkan perubahan nyata, positif, dan berdampak memerangi perdagangan satwa liar secara ilegal, partisipasi dalam pemeliharaan dan budidaya satwa yang terancam punah, dan Perlindungan flora dan fauna melalui kegiatan wisata.

Terobosan dalam membuat perubahan untuk menekankan konsumsi dan produksi secara lebih bertanggung jawab tercermin dalam prinsip SDG nomor 8, 12, 14 & 15.

Setelah kita turut berpartisipasi melakukan berbagai terobosan dalam bisnis pariwisata yang berkelanjutan, maka itu menjadi investasi jangka panjang.

Investasi terhadap orang, komunitas dan masyarakat untuk melaksanakan operasi bisnis wisata yang lebih ramah terhadap dampak ekonomi, sosial dan lingkungan.

Investasi terhadap wisatawan untuk merubah perilaku agar lebih ramah terhadap dampak ekonomi, sosial dan lingkungan destinasi wisata.

Investasi untuk pariwisata berkelanjutan adalah jaminan keberlanjutan bisnis wisata di masa yang akan datang, dan ini bukanlah paradoks.

Semoga bermanfaat.

Guswa

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

− 1 = 3