Menjadi yang Terdepan Kembangkan Destinasi Digital Zaman Now!

Destinasi memang ambiguitas: agar tak membosankan, tak mudah dilupakan. Itulah mengapa manajemen wisata perlu dikelola dengan organisasi yang unggul? Apalagi destinasi yang sebagian pengunjungnya adalah Wisman.

Segmen pelanggan Wisman umumnya memiliki karakteristik persyaratan dalam pelayanannya standar Internasional. Pertanyaan mendasarnya adalah apakah standar kualitas pelayanan destinasi berpengaruh meningkatkan kunjungan Wisman? Standar kulaitas pelayanan semestinya melengkapi esensi promosi dalam menguatkan brand.

Bicara data Badan Pusat Statistik (BPS) kunjungan wisman sepanjang tahun 2017 tercatat tumbuh 21,88% dibandingkan 2016 sebanyak 14 juta wisman. Dengan proyeksi rata-rata pertumbuhan ini, pemerintah optimistik target pencapaian Wisman 20 Juta orang pada tahun 2020 akan tercapai. Bonusnya adalah proyeksi penerimaan devisa untuk sektor pariwisata, akan menjadi penyumbang devisa terbesar bagi Indonesia di tahun 2020.

Kemarin, ketika paranoia terhadap target wisman mencuat, komitmen dalam promosi ditunjukkan dengan diperolehnya peningkatan Daya saing Pariwisata dalam Travel and Tourism Competitiveness Index (TTCI), dimana Indonesia berhasil naik ke ranking 42 pada tahun 2017. Selain 46 penghargaan di 22 negara untuk Wonderful Indonesia sejak tahun 2016.

Hari ini seolah telah jadi sebuah institusi. Promosi wisata perlu digarap secara menyeluruh dalam segi pembangunan kualitas destinasi, kualitas pelayanan, informasi yang tepat, dan pemasaran yang unggul. Meskipun, yang menjadi ujung tombaknya adalah pemasaran, namun semuanya itu tergantung penyelarasan peningkatan kapasitas dan kapabilitas di setiap mata rantai pariwisata.

Persoalannya masih terdapat kesenjangan anggaran, bila sekitar kurang lebih 12% dialokasikan untuk persiapan destinasi pariwisata, sedangkan anggaran promosi dalam negri 32% dan promosi luar negri mencapai 62% lebih.

Karena kalau kita komparasikan, Singapura dan Malaysia tidak punya produk wisata yang bagus. Tapi banyak didatangi Wisman, termasuk pengunjung dari Indonesia, karena destinasinya dikemas dengan unggul dan atraktif dalam memanjakan pengalaman pengunjung.

Itu sebabnya, “destinasi” adalah proses berkelanjutan. Standar pelayanan merupakan persyaratan produk dan proses bagi pengelola destinasi untuk memenuhi ekspektasi pengunjung. Pemenuhan persyaratan standar kulaitas pelayanan menjadi upaya perbaikan yang terus menerus, karena menjadi key success factors untuk menghasilkan kepuasan dan keterikatan pelanggan. Tidak dipungkiri, upaya ini juga berkontribusi signifikan dalam meningkatkan market share.

Destinasi (yang kini dekat dengan digital dan gaya hidup) dalam ragam yang tak habis-habisnya, itu bahkan belum bisa menanggapi suara pelanggan seperti gaung yang tak mati-mati dan tak kunjung selesai.

Destinasi sekelas heritage-pun harus selalu memperbarui penampilan dan layanannya mengikuti ritme dinamika selera pelanggan. Dinamika karena kreativitas berbeda dari orisinalitas. Kreativitas berangkat ke masa depan. Orisinalitas mengacu ke masa lalu.

Indonesia memiliki destinasi wisata berkelas dunia, seperti Candi Borobudur dan Prambanan yang merupakan world heritage (warisan budaya dunia versi UNESCO). Pengelola PT TWC Borobudur, Prambanan & Ratu Boko (Persero) terus menerus melakukan upaya perbaikan untuk memenuhi standar kualitas pelayanannya. Bergulat mengkolaborasi kreativitas dan orisinalitas.

Kita memahami, bahwa kebutuhan, keinginan dan harapan pelanggan sangat dinamis berkembang. Leisure yang kita kenal di abad 21 benar-benar berbeda. Pada abad 19 kita mengenal leisure class (Veblen, 1899), lalu di abad 20 menjadi experience economy (Joseph Pine & Gilmore, 1998).

Tiap generasi memiliki needs yang berbeda. Generasi dulu perlu “leisure,” sedangkan millennials perlu esteem. Apa yang disebut Prof Rhenald Kasali sebagai esteem economy, kumpulan dari manusia-manusia yang memerlukan pengakuan atas kunjungan dan leisure di suatu destinasi, melalui share, “like” atau jempol terhadap jejak digitalnya pada sosial media.

Setiap generasi mengingatkan kita sebagai homo fabulans: manusia yang selalu bercerita, untuk menguatkan status—dengan bahasa, kalimat unik, gambar dan video, tapi dengan demikian selalu baru dan merasa lebih hidup dengan apresasi “like” & Love” follower berkali-kali.

Perubahan esteem berpengaruh pada budaya dan kebiasaan wisatawan, berdampak pada berubahnya standar pelayanan destinasi. Manajemen destinasi dituntut mengembangkan destinasi digital yang kekinian, dimensinya zaman now dan menopang kebutuhan digital lifestyle atau gaya hidup yang dimudahkan oleh teknologi digital.

Sinema interaktif Petualangan Raka: Samudra Raksa di candi Borobudur

Berarti pengelola harus benar-benar memiliki media digital seperti website, aplikasi mobile, sistem transaksi online, dll. Pengelola destinasi juga harus memiliki tim cyber relation, yang berkolaborasi dengan komunitas travel blogger, selebgram, vlogger, dan Genpi (Gerakan Pesona Indonesia) sebagai media buzz atau word of mouth untuk promosi secara peer recomendation.

Pengembangan atraksi Kalau menurut Menteri Pariwisata, Arief Yahya usaha tersebut patokannya adalah bagaimana usaha pariwisata/destinasi zaman now agar selalu menciptakan creativity value dan commercial value. Destinasi yang menganut prinsip digital friendly, yaitu harus dapat memfasilitasi pengunjungnya dalam melakukan look, book, buy dan act dengan media digital.

Pengelola destinasi harus selalu menyediakan spot-spot dekomentasi yang instagramable dan artistik untuk selfie pengunjung. Kreatifitas dan inovatif dalam menampilkan augmented product baru, otentik dan unik, serta selalu nge-hits dan tidak membosankan.

Kita menunggu maraknya destinasi digital menjadi diferensiasi untuk meningkatkan daya tarik wisata. Banyak pihak telah dilibatkan untuk mendukung agar eksperimen dan terobosannya berhasil. Disinilah tantangan pengelola destinasi bertaruh dalam mengelaborasi kreatifitas dan orisinilitas, untuk memproduksi pengalaman otentisitas, sekaligus meningkatkan pelayanan dengan standar kualitas. Sejarah, di balik kerja keras mengembangkan destinasi, tak semuanya dikunjungi, ada kompetisi, ada destinasi yang perlu dijaga dengan di batasi.

Silahkan baca:

25 Strategi Manajemen Destinasi Wisata Masa Depan yang Unggul dan Powerful

25 Tren Transformasional yang Mempengaruhi Manajemen Destinasi Wisata di Masa Depan

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

10 + = 17