Karakteristik Kepemimpinan Bisnis Wisata Masa Depan yang Unggul

Leadership is the capacity to translate vision into reality. (Warren Bennis)

Perjalanan kepemimpinan bisnis pariwisata dimasa kini berada pada tantangan lingkungan yang penuh disrupsi (dalam bentuk teknologi, perubahan sosial, rekonfigurasi industri atau sejenisnya).

Hal ini terus membayangi dan menimbulkan dampak dalam istilah militer VUCA atau Volatile, Uncertain, Complex, Ambigue. Atau terjemahan dalam bahasa kita: Ketidakstabilan, Ketidakpastian, Kompleksitas, dan Ambiguitas.

Belum cukup sampai disitu, efek yang ditimbulkan memicu Diversity (keberagaman) termasuk berupa keseimbangan jender, keragaman lintas budaya dan lintas antargenerasi.

Jadi, tantangan para pempimpin industri pariwisata 4.0 adalah D-VUCAD yang artinya: Disruptive, Volatile, Uncertain, Complex, Ambigue, Diversity.

Untuk itu dalam artikel kali ini perlu kita ulas, bagaimana karakteristik pimpinan bisni wisata dalam menavigasi turbulensi perubahan yang diakibatkan efek D-VUCAD ini.
Kepemimpinan adalah sebuah perjalanan, bukan tujuan dan destinasi.

Kita sering melihat pemimpin perubahan yang berani mengeluarkan kebijakan yang tidak populis, tapi berdampak baik untuk bisnis wisata ke depannya.

Bagaimana kebijakan yang pro lingkungan D-VUCAD dalam sektor Pariwisata? Contohnya di era saat ini bisa kita lihat yaitu kebijakan pemerintah untuk memberikan bebas visa bagi 169 negara.

Adapun kebijakan populis sektor wisata seperti pembangunan infrastruktur untuk Akses konektivitas darat dan udara menuju destinasi, mengembangkan Amenitas dan menambah Aktraksi wisata yang terintegrasi antar destinasi.

Kebijakan yang pro D-VUCAD salah satunya berupa Penguatan data dan informasi destinasi pariwisata. Intensifikasi layanan sistem pembayaran dan ekonomi digital di semua destinasi wisata, akses pembiayaan usaha masyarakat di sekitar wilayah destinasi wisata, serta pendidikan vokasi interaktif kepada pekerja di sektor pariwisata.

Namun, banyak kita lihat, para pemimpin di sektor wisata yang memiliki visi besar, dengan kebijakan populis atau tidak populisnya, tapi mangkrak ditengah jalan karena kehabisan masa jabatan.

Atau banyak situasi dan kondisi D-VUCAD effect yang lantas menyebabkan para pemimpin di sektor wisata swasta, mengalami kesulitan untuk mewujudkan rencana, visi, serta impian yang menjadi gagasan besar dalam ikut mengembangkan bisnis wisata menjadi lebih berdaya saing.

Menjadi Great Leader dalam bisnis wisata, harus dilakukan oleh para individu dengan menghancurkan belenggu-belenggu diri, mengendalikan agresivitasnya dalam bentuk komunikasi yang teratur dan membakar semangat stakeholder pariwisata.

Memberi inspirasi yang mendorong potential people sehingga dapat lebih mengeluarkan poitensinya sehingga lebih produktif, inovatif dan kreatif, sehingga perusahaan lebih unggul karena memiliki pekerja yang bernilai (valuing people).

Menjadi Great Leader yang siap menghadapi lingkungan D-VUCAD (Gangguan, Ketidakstabilan, Ketidakpastian, Kompleksitas, Ambiguitas dan Keragaman), harus melengkapi Kapabilitas kepemimpinannya dengan 5K, yaitu:

1.Kemampuan bersaing (misalnya, penetapan tujuan dan keterampilan teknis);

2. Kreativitas (seperti inovasi dan rasa ingin tahu); kolaborasi (kerja sama dan keterlibatan);

3. Kontrol (perencanaan dan mitigasi risiko);

4. Kognisi (menggunakan kapasitas berpikir dengan berbagai perspektif);

5. Komunikasi yang efektif (intrapersonal, interpersonal, grup dan publik).

Perjalanan  Great Leader dalam menavigasi situasi lingkungan D-VUCAD (Gangguan, Ketidakstabilan, Ketidakpastian, Kompleksitas, Ambiguitas dan Keragaman), dalam sektor Pariwisata, diperlukan kepemimpinan yang tidak hanya sadar wisata tapi juga sadar  wawasan dengan mengembangkan 6A, yaitu:

1. AWARENESS (Kesadaran), mencapai kesadaran diri yang mendalam, orang lain, konteks dan tujuan sebagai titik landasan kepemimpinan mereka, didukung dengan komitmen untuk agenda pengembangan kepemimpinan atau rencana aksi.

2. ASPIRATION (Aspirasi), menetapkan visi jangka panjang untuk menjadi pemimpin terbaik, dan menghubungkannya dengan konteks jangka pendek dan agenda pengembangan kepemimpinan, refleksi, pelatihan, dan umpan balik.

3. AUTHENTICITY (Keaslian), mengembangkan dan menantang diri mereka sendiri menggunakan kepemimpinan diri yang jelas dengan pemahaman tentang atribut pribadi mereka, kecerdasan emosional dan lainnya, pemodelan peran mereka dan keterlibatan dengan orang lain.

4. ACUMEN (Ketajaman), membangun kapasitas pribadi dan tim untuk penilaian kepemimpinan, ketangkasan dan pengambilan keputusan tentang bisnis dan orang-orang penting, serta meningkatkan keragaman dan bakat tim.

5. APPROACHES (Pendekatan), mengadopsi pendekatan kepemimpinan sadar yang cocok dengan kemampuan organisasi, tim dan pribadi dengan kebutuhan konteks atau situasi.

6. ALTITUDES (Ketinggian), “terbang” pada tiga ketinggian kepemimpinan yang berbeda: 50.000 kaki (visi, strategis, eksternal dan organisasi); 50 kaki (eksekusi, operasional, tim dan pemangku kepentingan); dan 5 kaki (diri dan hubungan pribadi yang sangat dekat dengan orang lain). Berpikir, bertindak dan berkomunikasi tanpa henti ke atas dan ke bawah, tanpa terjebak di ketinggian satu pun.

Langkah selanjutnya, pekerjaan utama yang menantang para pimpinan bisnis wisata saat dalam menghadapi lingkungan D-VUCAD, adalah bagaimana merumuskan kembali Visi jangka panjangnya bagi organisasi bisnis atau perusahaannya.

“Visi tanpa aksi adalah lamunan. Aksi tanpa visi adalah mimpi buruk.” Robert A. Heinlein

Saat ini, kita temui Visi dan Misi telah menjadi jargon sehari-hari masyarakat. Apalagi di tahun potlitik. Tapi anehnya, tak satupun visi para pemimpin diingat masyarakatnya. Alih-alih para pemimpin sudah lupa dengan vision statement yang disampaikan saat kampanye, karena selama ini terbukti hasil yang mereka capai masih jauh dari  yang mereka janjikan.

Tapi kita bisa belajar dengan melihat bagaimana Steve Jobs menjadi salah satu pemimpin yang paling visioner, Visinya jelas, fokus dan menembus batas keragu-raguan:” An Apple at every desk” (Satu Apple pada setiap meja). Apple menjadi perusahaan pertama yang memiliki kapitaliasi pasar USD1 triliun atau setara Rp14.500 triliun (kurs Rp14.500 per USD).

7 Langkah Menetapkan Visi dan Misi

1. Identifikasi Stakeholder kunci organisasi / perusahaan Wisata, antara lain profil Wisatawan, Tenaga kerja (SDM), Komunitas Utama pariwisata, intitusi dan masyarakat.

2. Identifikasi apa saja persyaratan utama dan harapan pelanggan wisatawan serta stakeholder kunci yang ada dan harus dipenuhi. Baik persyaratan proses bisnis dan persyaratan produk/jasa yang dihasilkan. Bagaimana persyaratan dan harapan tersebut dapat dipenuhi oleh organisasi/perusahaan?

3. Visi dibuat dalam bentuk tulisan singkat, jelas, simple dan fokus, yang mencerminkan kontekstual cita-cita dan arah suatu tujuan organisasi di masa depan. Misi menjelaskan bagaimana langkah dan program strategis yang dilakukan untuk mewujudkan visi organisasi/perusahaan bisnis wisata.

4. Merancang dan menetapkan Visi, Misi dan Tata nilai organisasi/perusahaan yang mencerminkan komitmen terbaik yang akan dilakukan dan diberikan kepada pelanggan, wisatawan dan stakeholder pariwisata.

5. Vision statement yang baik semestinya menjelaskan Visi kepemimpinan yang energizing, mudah diingat agar mudah diterapkan, realistik, dan membedakan organisasi/ perusahaannya dengan kompetitor yang lain. Visi tidak bisa dipisahkan dan harus aligment dengan  misi, tata nilai dan perilaku, serta action plan.

6. Visi organisasi/perusahaan hendaknya terukur, memiliki values, sehingga perlu dikembangkan indikator sebagai asumsi pencapaian Visi. Agar dapat diketahui notifikasi yang mengindikasi kapan visi telah tercapai. Rumus-rumus Visi harusnya simple, mudah diingat namun menggetarkan dan menggerakkan orang.

7. Diterjemahkan dan dijabarkan penerapannya kedalam role model kepemimpinan. Dilakukan penyebarluasan/internalisasi secara konsisten kepada seluruh stakeholder. Dikemas dalam tuntunan perilaku budaya organisasi, serta diikat dalam komitmen perilaku berupa code of conduct.

Sebuah organisasi yang sukses, merefleksikan komitmen Visi dan misinya pada tata nilai organisasi yang menjadi acuan tindakan pribadi para pimpinannya. Nilai inti yang akan menjadikan kebiasaan perilaku organisasi yang diikuti tenaga kerjanya, sehingga menjadi budaya perusahaan yang membentuk keterikatan tenaga kerja, pelanggan dan stakeholder.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

54 − = 48