The Power of ‘Suara Traveler’

Dalam kesempatan artikel kali ini, kita akan mengulas tentang bagaimana powerfulnya suara traveler, yang telah mengguncang jagad industri pariwisata dan bisnis. Pariwisata tumbuh lebih cepat dari tahun-tahun sebelumnya secara global di negara-negara berkembang, bukan saja Indonesia. Dalam kurun 10 tahun, lanskap pariwisata berubah sepenuhnya. Platform digital mengubah cara konvensional dalam perjalanan wisata mulai dari saat meneliti, membeli, menjual, nilai tambah, pengalaman dan berbagi.

Penelitian oleh Google dan Phocuswright menunjukkan hampir separuh wisatawan, lebih nyaman melakukan proses meneliti, merencanakan dan memesan perjalanan wisata  hanya dengan menggunakan perangkat seluler.

Hal ini menyebabkan, User-Generated Content (UGC) dengan cepat menjadi sumber informasi perjalanan yang paling diminati untuk digunakan wisatawan dan pelaku bisnis.

Sudahkan bisnis wisata anda memanfaatkan UGC yang powerful ini?

Disrupsi saluran pelanggan

Disrupsi digital mempengaruhi saluran perjalanan wisata dan agen perjalanan, buku panduan wisata, pola pemasaran konvensional, dukungan konsumen, dan sistem pemeringkatan bintang.

Situasi ini juga menghadirkan peluang baru untuk mengembangkan destinasi melalui pemanfaatan platform big data, dan peningkatan kinerja yang eksplosif dengan biaya yang super hemat.

Pertumbuhan volume suara traveler melalui ulasan wisata dan aktivitas pada platform UGC ini didorong dari pasar negara berkembang.

Selama lima tahun terakhir, rata-rata tingkat pertumbuhan ulasan yang diposting oleh para traveler dari Timur Tengah, Asia, dan Eropa masing-masing adalah 21 persen, 18 persen, dan 10 persen.

Ada 3,2 miliar orang yang menggunakan media sosial; tumbuh sebesar 13 persen dari tahun lalu.

Atau rata-rata sebanyak 11 akun baru lahir setiap detik di media sosial. Benua Asia Tengah dan Selatan yang berkontribusi mendorong terjadinya pertumbuhan ini.

Perkembangan UGC diluar ekspektasi. Mengelola reputasi online sekarang menjadi perhatian sangat serius dalam mengembangkan bisnis pariwisata.

Meskipun ironisnya, ada banyak orang khususnnya yang berada di daerah destinasi berpendapatan rendah, menganggap penerapan digital ini menjadi wilayah baru dan kurang dikuasai.

Pertanyaan kuncinya adalah: apakah teknologi UGC ini dapat diakses, apakah mengarah ke hasil dan dampak yang lebih inklusif, apa saja risikonya dan bagaimana sebaiknya kita mengatasinya?

Dalam artikel The Power of ‘Suara Traveler’ kali ini, akan dieksplorasi, bagaimana UGC fokus pada hasil yang lebih inklusif untuk pariwisata yang semakin global namun justru semakin personal.

Simak dan baca artikel ini lebih lanjut.

Anda akan dibawa kedalam pemahaman tahap berikutnya, bagaimana suara traveler begiu powerful dan menjadi salah satu faktor kunci sukses dalam bisnis wisata di era kenormalan baru ini.

 

Platform & Gambaran Besar UGC

 

Destinasi dan bisnis wisata ditugasi menjangkau traveler baru setiap hari, dengan memperluas pasar setiap saat, dan mengakuisisi segmen pengunjung baru.

Hal ini karena tidak seperti pada industri lain, dimana bisnis wisata memiliki lebih sedikit pelanggan:

Wisatawan yang berulang-ulang berkunjung, melakukan repeat order dan terus menerus membeli produk dan jasa yang sama. Terlebih maraknya destinasi dan atraksi baru yang inovatif.

Mengakuisisi traveler baru terasa menjadi semakin sulit karena banyaknya informasi yang diterima wisatawan dan semakin banyaknya alternatif destinasi serta paket wisata.

Skift menyampaikan tren ini dalam The Megatrends Defining Travel pada tahun 2018, yang menyatakan,

“Dengan semakin banyak kompetisi di ruang bisnis wisata, destinasi membutuhkan konten yang lebih menarik dan kreatif untuk menjangkau traveler. Bukan lagi sekedar foto dan video yang indah”.

Tahun 2018 ada lebih banyak orang yang bewisata daripada tahun sebelumnya.

Arus kedatangan internasional meningkat sebesar 1,3 miliar orang, naik 7 persen dari 2016 yang sekaligus menandai pertumbuhan pariwisata berkelanjutan dalam tujuh tahun terakhir ini.

Pengeluaran pariwisata internasional tumbuh menjadi US$ 1,4 triliun pada tahun 2017 – dan kemungkinan akan terus meningkat karena jumlah rumah tangga yang mampu melakukan perjalanan internasional tumbuh.

Sementara ekonomi pariwisata Amerika Utara dan Eropa Barat juga telah tumbuh lebih dari 15 persen dan 9 persen masing-masing dalam 10 tahun terakhir, pasar Asia bahkan meningkat lebih dari 130 persen.

Hal ini disebabkan berkembangnya ekonomi kelas menengah baru di kawasan ini.

Disrupsi digital dalam bisnis wisata telah mengubah karakteristik profil para traveler.

Dan menempatkan manajemen destinasi dalam posisi bersaing menarik traveler yang semakin beragam dengan berbagai kebutuhan pengalaman, platform UGC, pilihan perjalanan dan gaya berwisata.

The Power of Word of ‘dari mulut ke mulut’ (WOM) & e-WOM

Pemasaran dari mulut ke mulut telah lama memiliki pengaruh yang kuat dalam proses pengambilan keputusan konsumen.

Dalam bisnis wisata, WOM dan eWOM menjadi lebih penting karena tingkat keterlibatan konsumen yang tinggi.

Adanya kepentingan finansial dan emosional yang besar berpotensi menimbulkan risiko jika terjadi kesalahan.

Konsumen menganggap suara traveler dan WOM lebih kredibel daripada materi pemasaran perusahaan.

Kkarena kontennya tidak terdistorsi oleh kepentingan bisnis perusahaan atau organisasi pengelola dewstinasi (DMO).

Menurut survei terhadap lebih dari 30.000 traveler di Eropa, UGC digunakan oleh lebih dari 35 persen responden.

Hanya 17 persen responden yang menggunakan informasi yang ditawarkan oleh penyedia layanan atau destinasi.

Meskipun demikian, destinasi terus menuangkan jutaan dolar pemasaran ke situs web, majalah, dan saluran pemasaran resmi lainnya.

Teknologi digital memungkinkan WOM dipublikasikan secara online dan disimak jutaan audiens.

Memungkinkan konsumen membagikan ulasan dan pendapat mereka kepada komunitas online yang difasilitasi oleh platform seperti TripAdvisor, Facebook, Instagram, dan Google.

OTA telah mengikutinya dengan menfasilitasi konsumen menilai dan menulis ulasan tentang fasilitas hotel, sehingga menjadikan hiper UGC ini lebih relevan bagi end user.

Fenomena eWOM

Saat ini platform digital mendorong tren suara traveler, dengan memberikan platform gratis di mana para traveler dapat berbagi pendapat tentang pengalaman di destinasi yang telah mereka kunjungi.

UGC dan eWOM memungkinkan traveler melakukan penelitian untuk mengetahui seperti apa pengalaman yang ada, sebelum mereka membuat komitmen finansial untuk memesan dan membeli.

Konsumen tertarik meneliti pendapat dan ulasan traveler lain yang telah mengunjungi lebih dahulu, karena destinasi wisata bukanlah produk riil yang dapat diuji sebelum melakukan pembelian, seperti halnya melakukan test drive pada mobil dan motor.

Selain itu, eWOM sangat penting bagi konsumen selama fase awal penelitian perjalanan wisata, karena membantu alternatif dalam mempersempit pilihan terhadap destinasi.

Termasuk pertimbangan dalam membandingkan harga dan nilai tambah layanan yang diberikan, misalnya untuk pemilihan akomodasi.

Konten Inspiratif

Menurut Survei TripBarometer yang dilakukan oleh Ipsos, terdapat 46 persen responden menggunakan TripAdvisor.

Sebanyak 28 persen menggunakan ulasan mesin pencari (misalnya ulasan di Google), dan 23 persen traveler menggunakan konten yang diposting oleh wisatawan lain ketika menentukan destinasi wisata.

TripAdvisor ditemukan sebagai sumber informasi utama di banyak tahap perencanaan dan pemesanan perjalanan wisata.

Dengan perilaku kebiasaan pengguna yang sering menelusuri TripAdvisor meskipun diluar waktu musim liburan- menjadi peluang destinasi untuk memengaruhi konsumen untuk jangka panjang.

Sebagai contoh lebih lanjut tentang pentingnya UGC, comScore menemukan bahwa 74 persen pemesan perjalanan online di seluruh dunia mengunjungi TripAdvisor.

Sebanyak 57 persen dari pemesan khusus hotel mengunjungi TripAdvisor terlebih dahulu sebelum melakukan reservasi pembelian.

Dampak UGC bahkan lebih jelas ketika melihat perilaku wisata milenial, dimana 89 persen di antaranya merencanakan kegiatan perjalanan berdasarkan konten online inspiratif dan suara traveler yang diterbitkan oleh rekan-rekan mereka.

Sebuah survei Adweek menemukan bahwa 52 persen pengguna Facebook terinpirasi untuk bepergian saat mereka menggunakan platform wisata, bahkan ketika mereka tidak merencanakan liburan sekalipun.

Jumlah ini meningkat menjadi 87 persen untuk milenial yang menggunakan jaringan sosial untuk mencari inspirasi perjalanan wisata.

Traveler dan wisatawan Millennial juga mendorong tren pembuatan konten kreatif.

Menurut sebuah studi oleh Chase Marriott Rewards. Hampir semua (97 persen) Traveler milenial memposting dan berbagi pengalaman saat bepergian wisata di jejaring sosial, 73 persen memposting setidaknya sekali sehari.

Konsumen potensial kemungkinan besar terbentuk persepsi terhadap citra suatu produk atau layanan destinasi wisata sebelum mereka mengalaminya.

Image itu bisa berasal dari apa yang digunakan destinasi atau bisnis wisata dalam membagikan pesan pemasarannya –sebagai pesan brand untuk konsumen.

UGC juga tidak dianggap sebagai materi penawaran penjualan, melainkan pengalaman berbagi yang otentik.

Hal ini akan meningkatkan tingkat kepercayaan dan nilai yang dirasakan.

Sebuah studi Facebook terhadap pengguna Instagram menemukan bahwa 61 persen pengguna Instagram menggunakan platform ini untuk “berwisata seperti masyarakat lokal”, dan untuk menemukan hal-hal yang harus dilakukan ketika bepergian ke tempat baru.

Ini mungkin menawarkan peluang bagi destinasi yang masih kurang berkembang untuk memperluas jangkauan rantai nilai pariwisata mereka.

UGC berdampak terhadap perilaku pembelian wisatawan.

Pengetahuan tentang lanskap digital digabungkan dengan strategi dan taktik yang tepat akan membantu destinasi dan bisnis wisata menjadi lebih kompetitif, dan penggunaan sumber daya pemasaran dan pengembangan produk secara lebih efektif.

 

 

10 Alasan Mengapa UGC Penting

 

Berikut adalah 10 alasan utama, mengapa UGC, platform sosial wisatawan dan suara traveler, sangat penting bagi destinasi dan bisnis wisata:

1: Mendorong Pendapatan

Pada tahun 2017, TripAdvisor bertanggung-jawab terhadap US $ 546 miliar dari total pengeluaran pariwisata global, menurut sebuah studi oleh firma riset pariwisata Tourism Economics.

Sebesar US $ 80 miliar (15 persen) pendapatan tidak akan diperoleh tanpa adanya TripAdvisor. Pengaruh juga pada terjadinya pertumbuhan rata-rata 7,4 persen per tahun dalam sepuluh tahun terakhir.

Studi ini juga menemukan bahwa peningkatan ulasan pada TripAdvisor mempengaruhi minat permintaan dalam pariwisata yang berdampak memperpanjang masa tinggal di destinasi.

Sebagaimana publikasi dalam industri Manajemen Hotel yang mengatakan: “Itu berarti TripAdvisor membuat traveler lebih lama menginap.

Bahkan, dampak lain juga berlaku pada traveler yang sudah merencanakan perjalanan atau yang sudah berada di tujuan wisata, dan penggunaan TripAdvisor membuat mereka menginap lebih lama, sehingga menghasilkan pengeluaran tambahan di destinasi.

Kekuatan suara traveler melalui UGC meluas melampaui TripAdvisor ke jangakuan platform UGC lain dan saluran pemesanan, dan perkembangan konten itu sendiri.

Banyak destinasi dan bisnis wisata memanfaatkan UGC untuk kampanye pemasaran yang mendorong peningkatan pendapatan dan mengurangi biaya produksi konten.

Jaringan hotel mendapati terjadi peningkatan 62 persen dalam keterlibatan sosial.

Termasuk peningkatan empat kali lipat dalam pendapatan dari pemesanan yang efektif, setelah menyebarkan konten UGC dalam kampanye pemasarannya.

Demikian pula, grup tur operator memiliki hasil yang sama ketika menggabungkan UGC di situs webnya, dilengkapi peta online, saluran media sosial, dan saluran pemasaran lainnya.

Perusahaan mendapati terjadi peningkatan 12 persen dalam lalu lintas (visitor) situs web dan blog, pertumbuhan 9 persen dalam closing penjualan dan penghematan 62 persen dalam biaya manajemen konten.

2: Meningkatkan Akses ke Pasar

Platform seperti TripAdvisor, Facebook, dan Twitter menawarkan destinasi dan bisnis wisata terhubung langsung ke konsumen perjalanan wisata melalui akun bisnis.

Organisasi perjalanan dapat membuat akun bisnis untuk mengkomunikasikan proposisi nilai mereka secara interaktif, melakukan kampanye iklan berbayar, terlibat dengan audiens wisatawan, dan menanggapi pertanyaan pelanggan di platform.

Dalam waktu kurang dari satu dekade, suara traveler melalui UGC telah berevolusi dari ulasan yang diposting melalui situs web, menjadi inisiatif multi-platform andalan utama.

Penerapannya memperkuat strategi pemasaran digital dan media sosial berbagai brand dalam industri pariwisata.

3: Memanfaatkan Konten Konsumen

Destinasi dan bisnis wisata dapat memanfaatkan konten yang dibuat oleh konsumen untuk membantu memasarkan bisnis wisata mereka.

Konsumen mempercayai ulasan dan testimoni dari orang lain 12 kali lebih besar daripada konsumen mempercayai brand, itulah sebabnya merek menggunakan UGC dalam kampanyenya.

Banyak Destinasi dan bisnis wisata baru tidak memiliki banyak konten berkualitas tinggi untuk digunakan dalam pemasarannya.

Dengan menggunakan kamera yang semakin canggih di ponsel, pengunjung ke suatu destinasi, sekarang dapat dengan cepat membuat konten yang mewakili perspektif para traveler.

Platform kurasi konten visual, seperti Crowdriff memungkinkan Destinasi dan bisnis wisata mencari konten yang tersedia di audiens publik untuk digunakan di saluran mereka.

Manajemen konten perjalanan wisata yang dibagikan oleh pengunjung dan komunitas daring dapat menjadi pesan pemasaran yang efektif. Tourism Ohio (@Ohiogram) melihat keterlibatan 10 persen lebih tinggi ketika menggunakan UGC.

4: Membangun Kompetensi

Mengelola platform dan konten secara efektif dan efisien membutuhkan waktu, dana, serta keterampilan khusus.

Keterampilan yang dibutuhkan termasuk menulis copywriting, digital marketing, dan public relation.

Destinasi dan bisnis wisata perlu menggunakan platform perangkat lunak yang berbeda untuk mengelola konten (lihat Tabel 2), dan merekrut talent baru untuk membuat dan mengelola konten online pada saluran yang menjangkau audiens traveler.

Kesalahan langkah di media sosial dapat memiliki konsekuensi dan dampak yang serius.

Seperti contoh kasus Pemerintah China menutup situs Marriott International Inc Shanghai selama sepekan, setelah hotel itu menyebut Tibet dan Hongkong adalah negara independen di akun twiternya.

Netizen Cina bereaksi keras terhadap Marriott. Mereka melampiaskan kemarahannya melalui media sosial Weibo.

United Airlines mendapat kecaman setelah beberapa kali salah dalam penanganan media sosial, sehubungan dengan beberapa inciden yang menjadi viral di media sosial melalui konten pengguna, terutama di Facebook dan Twitter.

Citizen journalist membuat isunya mengalir, suara traveler menggema kemana-mana, sehingga semakin banyak masalah yang terekspos, dan yang mengagetkan adalah United Airlines merespons kejadian ini dengan sangat buruk.

Permohonan maaf CEO mereka, Oscar Munoz pun ditanggapi beberapa pengguna twitter dengan melakukan polling melalui tweet mereka.

Dimana sejumlah polling tersebut menunjukkan lebih dari 98% menyatakan ketidakpercayaannya pada United Airlines, bahkan memboikot maskapai penerbangan kenamaan Amerika tersebut.

5: Memonitor Kinerja dengan Big Data

UGC juga dapat memberikan data baru yang real-time tentang perilaku konsumen. Hal ini memungkinkan Destinasi dan bisnis wisata untuk meningkatkan kinerja mereka.

Organisasi Destinasi dan bisnis wisata dapat mengaudit konten yang dibuat oleh audiens penggunanya, melalui alat mendengarkan suara konsumen dan agregatornya.

Ini untuk menganalisa jenis pengalaman apa yang diminati wisatawan dan hal penting apa yang mereka posting.

Informasi ini bermanfaat untuk input dan inspirasi pengembangan produk, insights pemasaran, kapabilitas manajemen destinasi, dan benchmarking.

Berbagai alat telah muncul untuk membantu Destinasi dan bisnis wisata mengelola data kinerjanya, lihat Tabel 2 untuk informasi lebih lanjut.

Kelompok WBG juga memanfaatkan UGC untuk memantau kinerja sebagai bagian dari kerjanya dengan pemerintah Indonesia untuk meningkatkan daya saing sektor pariwisata.

Sementara proyek ini masih dalam tahap awal, studi kasus di Bagian 3 menunjukkan aplikasi potensial untuk UGC dalam proyek pengembangannya.

6: Memperbaiki Kualitas

Umpan balik dari pelanggan sebagai memungkinkan perusahaan untuk meningkatkan penawaran produk wisatnya.

Platform sosial adalah forum bagi pelanggan untuk memberikan umpan balik dan suara traveler secara real-time dan mengangkat masalah tanpa memicu tekanan sosial, dari berupa komplain secara langsung.

Hal ini memudahkan dalam memahami masalah apa yang perlu ditangani yang membantu perbaikan bisnis jauh lebih efisien dan sukses.

Hotel menggunakan UGC untuk mengidentifikasi dan memperbaiki masalah layanan.

Selain itu, ulasan online dapat digunakan untuk mengevaluasi efektivitas pelatihan SDM, kualitas layanan, dan dampak investasi dalam peningkatan kinerja.

Misalnya, sebuah hotel yang berinvestasi dalam pelatihan layanan pelanggan dapat memantau ulasan sebelum dan sesudah pelatihan, untuk melihat apakah ada perubahan dalam sentimen dan skor.

Pelajari bagaimana TripAdvisor untuk mengelola komunikasi krisis setelah bencana alam di Bagian 3.

7: Memprediksi Kinerja

Penelitian menunjukkan bahwa ulasan peringkat adalah salah satu prediktor paling penting dari kinerja sebuah hotel.

Sebuah studi baru yang dilakukan oleh Cornell Hospitality Quarterly, menemukan korelasi erat antara peringkat ulasan hotel dan kinerja keuangannya.

Korelasi serupa ditemukan antara tingginya respons terhadap komentar negatif mempengaruhi capaian kinerja keuangan.

Penelitian ini juga menemukan bahwa tingkat respons oleh manajerial terhadap platform UGC OTA juga meningkatkan kinerja hotel. Tingkat respons manajerial sangat berkorelasi dengan peningkatan penjualan.

Respon berupa “Menanggapi ulasan dan suara traveler, khususnya ulasan negatif dan komplain, berhubungan positif dengan pembentukan persepsi konsumen tentang hotel, yang diukur dengan peningkatan skor pada rating TripAdvisor.”

Studi lain menemukan bahwa akomodasi yang merespons lebih dari 50 persen ulasan media sosialnya, berdampak menumbuhkan tingkat hunian lebih dari dua kali lipat dibandingkan yang cenderung mengabaikan ulasan.

Hal ini menunjukkan pentingnya kecepatan dan ketepatan manajerial dalam merespon sebagian besar ulasan konsumen yang ada pada UGC dan media sosial.

8: Melakukan Benchmark Pesaing

UGC dan media sosial menawarkan Destinasi dan bisnis wisata peluang untuk melakukan tolok ukur terhadap pesaing dan target aspirasionalnya.

Destinasi dan bisnis wisata dapat melihat bagaimana laju kinerja pesaingnya, di berbagai kategori produk dan apa yang menjadi pertimbangan utama traveler pesaing untuk tetap engage atau bahkan berpindah.

Benchmarking dengan melacak kinerja destinasi lain, ‘atau situs bisnis’ dan media sosialnya pesaing, akan membantu memberikan pemahaman tentang karakteristik konten yang paling diterima wisatawan.

Dengan melacak posting media sosial yang “dibagikan” dan “disukai”, dapat memberikan indikasi tren konsumen yang baik, yang pada akhirnya membantu menjadikan pemasaran lebih tertarget.

Situs perjalanan global seperti TripAdvisor memanfaatkan sejumlah besar data penggunanya, untuk membantu destinasi memahami destinasi mana yang mereka lawan dan sebab mengapa mereka gagal mengunggulinya.

Analisis kompetitif destinasi semacam itu, mengungkapkan bagaimana destinasi yang dilihat dan dinilai pengguna dalam sesi pencarian yang sama, dari mana pengguna tersebut berasal, dan peran tren musiman dalam pola pencarian mereka.

Misalnya, Resonance Consultancy sebuah perusahaan konsultan pariwisata AS,  memanfaatkan data TripAdvisor dan sumber data lain, untuk membuat Indeks Kualitas Pariwisata Karibia berdasarkan suara traveler, yang digunakan untuk membandingkan berbagai tujuan wisata yang berbeda.

hal ini berhasil membantu klien dari Otoritas Pariwisata dalam menyusun strategi bisnis untuk memenangkan penguasaan pasar wisatanya.

9: Mempengaruhi Image dan Paparan Online

UGC mempengaruhi cara merek Destinasi dan bisnis wisata dipersepsikan dan didaftar.

Untuk destinasi, konten ulasan berdampak pada apa yang oleh beberapa peneliti disebut sebagai Tourist Destination Image (TDI) atau penilaian image yang dimiliki traveler tentang destinasi yang merupakan gabungan buah dari berita, pencitraan merek, ulasan pengguna, dan informasi lainnya.

Image yang berdampak pada bagaimana keputusan konsumen untuk mengunjungi destinasi.

Ulasan juga sering digunakan oleh platform pemesanan untuk menentukan urutan daftar bisnis wisata. Agen perjalanan online (OTA) Expedia, misalnya, mencantumkan properti berdasarkan jenis ulasan:

– Destinasi dengan tingkat suara traveler positif lebih banyak, akan diberi peringkat lebih tinggi daripada destinasi dengan peringkat positifnya rendah atau tanpa peringkat.

Expedia merekomendasikan agar destinasi memperhatikan ulasan dan belajar dari umpan balik pelanggan mereka untuk perbaikan praktik bisnisnya.

Agregat UGC juga dapat disaring untuk memilih konten yang di sharing, selaras dengan nilai-nilai dan strategi brand destinasi.

10: Mengukur Pengembalian Pemasaran atas Investasi (ROI)

UGC yang diperbarui secara real-time, mengungkapkan situasi dan kondisi update suara traveler tentang suatu destinasi secara lebih cepat, dengan biaya yang lebih efektif dari menggunakan survei atau bentuk informasi kampanye lainnya.

Destinasi dan bisnis wisata, selalu ditantang dengan mengukur ROI dari program pemasaran, pelatihan, dan manajemen organisasi, terutama karena mereka bukan penyedia akhir dari pengalaman perjalanan wisata.

Manajer destinasi dan bisnis wisata, sering mengandalkan kedatangan dan pengeluaran berupa angka, tetapi angka-angka itu sulit untuk dikaitkan secara langsung dengan upaya lokal dan pengumpulan data sering dilakukan setiap tahun.

UGC dapat mengungkapkan tentang bagaimana minat terhadap suatu destinasi, bagaimana perbaikan kinerja bisnis, dampak manajemen wisata, efektivitas sesi pelatihan bisnis SDM, dan data lainnya yang relevan.

 

Platforms UGC

Dampak dari konten yang dibuat pengguna pada destinasi perjalanan wisata, tergantung pada kekuatan dan luas jangkauan platform online yang digunakan untuk audiennya.

Ada 3,2 miliar orang yang menggunakan media sosial; ini naik 13 persen dari tahun lalu dan diterjemahkan menjadi 11 orang baru membuka akun di media sosial setiap detiknya. Asia Tengah dan Selatan mendorong masifnya pertumbuhan ini.

Facebook yang mendapat keuntungan dari pertumbuhan tersebut, dan sekarang menjadi jejaring sosial terkemuka yang menguasai 91 persen di dunia.

Platform UGC terus bermunculan, sehingga banyak saluran sosial yang menyasar pada segmen pasar khusus, dengan relevansi dan dampak yang besar:

Yelp adalah salah satu saluran UGC dengan ulasan terbesar di AS, Line lazim di Jepang, HolidayCheck populer di Jerman, dan VK populer di Rusia seperti Odnoklassniki.

Penting untuk menentukan target audiens Destinasi dan bisnis wisata yang tepat, dan mencari tahu platform mana yang digunakan audiens ini sebelum berinvestasi di saluran UGC apa pun.

Berikut ini adalah ikhtisar platform UGC publik arus utama dengan audiens global dan dampak terbesar pada industri pariwisata. Daftar ini tidak termasuk aplikasi perpesanan peer-to-peer seperti WhatsApp.

Platform Utama UGC Wisata

Dunia pemasaran pariwisata digital berkembang pesat dengan UGC.

Destinasi dan bisnis wisata yang memanfaatkan peluang ini, dijamin tidak akan banyak menghabiskan uang untuk pemasaran dibandingkan dengan cara pemasaran konvensional untuk hasil yang sama.

Saat ini bahkan terdapat peluang untuk destinasi berpenghasilan rendah untuk membuat perbedaan signifikan melalui kampanye digital yang cerdas berdasarkan UGC.

Alat & Softwere UGC

Organisasi pariwisata dapat menggunakan Softwere dan alat lain untukt membantu dalam menavigasi dan mengelola lanskap UGC.

Softwere dan alat UGC dapat digunakan untuk memantau kinerja brand, mengatur dan mengelola konten yang dibuat user, mengelola reputasi online, data agregat, dan lainnya tergantung pada kebutuhan organisasi. Ikhtisar alat disediakan di bawah ini:

Sumber Daya UGC: Platform, Softwere dan Tools

Studi Kasus

Studi kasus mengungkapkan bahwa destinasi yang memanfaatkan kekuatan UGC untuk telling stories, telah berhasil meningkatkan kesadaran pasar akan produk mereka dan suara traveler yang positif.

Jordania berhasil mengandalkan UGC untuk menceritakan kisahnya tentang destinasi wisata yang aman, dan berhasil meyakinkan untuk konsumen tidak cemas melakukan wisata ke Timur Tengah.

Puerto Rico memanfaatkan UGC untuk mengkomunikasikan dan mempengaruhi suara traveler, bahwa pulau itu terbuka untuk bisnis pasca terjadinya bencana alam.

Bermuda menggunakan data suara traveler yang dikumpulkan dari UGC untuk tetap selaras dengan permintaan konsumen, dan meluncurkan produk wisata kuliner baru.

Indonesia akan memanfaatkan UGC dan platform pariwisata untuk memperoleh data dan suara traveler, untuk melatih dan memantau keberhasilan pengembangan komunitas startup dan UKM pariwisata.

Dengan semakin meningkatnya hingga 50 persen wisatawan mandiri asal Tiongkok berlibur ke Bali, Alibaba Group menjalin kerjasama dengan pengusaha-pengusaha pariwisata di Bali serta sejumlah Bank untuk membuat aplikasi panduan wisata yang memanfaatkan UGC.

Namun, masih banyak yang harus dipelajari tentang bagaimana menggunakan UGC untuk analisa suara traveler yang berdampak  lebih meningkatkan daya saing destinasi pariwisata.

UGC dapat menyediakan alat yang andal untuk memantau dampak investasi pariwisata:

Kolaborasi destinasi dan platform digital memberikan peluang melacak efektivitas dari “sebelum, selama, dan setelah” sesuai siklus pengunjung, serta berbagai upaya pengembangan kapasitas atau produk pada destinasi dan bisnis wisata.

UGC dapat membantu destinasi mengelola jumlah dan pergerakan pengunjung dengan lebih baik: UGC mengungkapkan perilaku traveler secara real-time.

Hal ini memiliki potensi yang signifikan baik dalam hal membantu destinasi untuk menghindari masalah yang timbul karena kepadatan pengunjung,

Serta menawarkan cara-cara inovatif untuk mendistribusikan dampak dan manfaat pariwisata berdasarkan wilayah geografis dan ekonomi wisata yang lebih luas dan berkelanjutan.

Salam #wonderfulIndonesia

– Guswa

sumber data dan referensi: (2018 The World Bank Group report; Think with Google; Oxford Economics & TripAdvisor Insights; Reuters: Instagram’s user base grows to more than 500 million)

baca juga: 50 Megatren Transformasional Pariwisata

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

74 − 68 =